<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Padepokan Rumah Kayu</title>
	<atom:link href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com</link>
	<description>kala asmara sepahit madu dan dendam semanis empedu berpadu menjadi satu...</description>
	<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 07:22:12 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Eps 47. Hujan Batu dan Api di Padang Tak Bertepi</title>
		<link>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2012/04/14/eps-47-hujan-batu-dan-api-di-padang-tak-bertepi/</link>
		<comments>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2012/04/14/eps-47-hujan-batu-dan-api-di-padang-tak-bertepi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 06:24:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>padepokanrumahkayu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Darah di Wilwatikta]]></category>

		<category><![CDATA[buaya]]></category>

		<category><![CDATA[cerita silat]]></category>

		<category><![CDATA[cersil]]></category>

		<category><![CDATA[gunung meletus]]></category>

		<category><![CDATA[kilat]]></category>

		<category><![CDATA[lintah]]></category>

		<category><![CDATA[majapahit]]></category>

		<category><![CDATA[monyet]]></category>

		<category><![CDATA[padang pasir]]></category>

		<category><![CDATA[trowulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/?p=174</guid>
		<description><![CDATA[DHANAPATI melangkahkan kakinya, melompati akar- akar pohon besar. Menyingkirkan ranting- ranting yang menghalang.
Mereka ada di dalam hutan yang lebat sekarang.
Monyet- monyet berlompatan dari satu dahan ke dahan lain. Beberapa turun ke tanah.
Dhanapati menyingkirkan dua ekor lintah yang menempel di kakinya. Di sampingnya, Kaleena memperhatikan dengan muka yang menampakkan rasa antara geli dan ngeri.
Dhanapati tersenyum. Dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><strong>DHANAPATI</strong> melangkahkan kakinya, melompati akar- akar pohon besar. Menyingkirkan ranting- ranting yang menghalang.</p>
<p style="text-align: justify">Mereka ada di dalam hutan yang lebat sekarang.</p>
<p style="text-align: justify">Monyet- monyet berlompatan dari satu dahan ke dahan lain. Beberapa turun ke tanah.</p>
<p style="text-align: justify">Dhanapati menyingkirkan dua ekor lintah yang menempel di kakinya. Di sampingnya, Kaleena memperhatikan dengan muka yang menampakkan rasa antara geli dan ngeri.</p>
<p style="text-align: justify">Dhanapati tersenyum. Dia menghapus bekas darah yang keluar dari bagian dimana lintah tadi menggigit. Setelah itu, seakan tak ada apapun yang terjadi, dia melangkahkan kakinya lagi. Kaleena mengikuti di belakangnya.</p>
<p style="text-align: justify">Belum lama mereka melangkah, terdengar jeritan Kaleena.</p>
<p><span id="more-174"></span></p>
<p style="text-align: justify">Dhanapati serentak menoleh dan berbalik. Bersiap memasang kuda- kuda, untuk melawan jika ada musuh yang menghadang. Namun apa yang dilihatnya membuatnya terpaksa menahan tawa.</p>
<p style="text-align: justify">Kaleena dengan panik menunjuk- nunjuk kakinya. Rupanya, ada lintah yang baru saja menempel di situ. Dia ingin melepaskannya tapi tak berani menyentuh lintah itu.</p>
<p style="text-align: justify">Dhanapati mendekat. Dihampirinya Kaleena yang pucat pasi. Dia berjongkok dan melepaskan lintah itu dari kaki Kaleena.</p>
<p style="text-align: justify">Dan saat kaki halus itu tersentuh, mau tak mau Dhanapati teringat pada apa yang terjadi kemarin malam. Teringat pada halus lembut kulit sang putri dari seberang lautan. Kaleena yang tadinya berusaha mencegah, sudah tampak <a href="http://fiksi.kompasiana.com/novel/2012/04/01/darah-di-wilwatikta-eps-46-mencari-jalan-keluar/">pasrah</a> saat itu. Dhanapati mulai menelusuri kulit yang halus dan lembut itu dengan bibirnya sambil menikmati keharumannya ketika tiba- tiba petir menggelegar lagi.</p>
<p style="text-align: justify">Dhanapati melihat percik api berpendaran. Kuning. Jingga. Merah. Gunung- gunung tampak di kejauhan. Biru gelap dan tadinya tak terlihat. Tapi saat petir menggelegar, gunung itu menjadi latar belakang percik api yang berpendaran.</p>
<p style="text-align: justify">Dhanapati berhenti menciumi Kaleena.</p>
<p style="text-align: justify">Mereka berada di bawah sebuah pohon beringin besar saat itu. Dhanapati tahu, itu tidak aman. Berada di bawah sebuah pohon besar saat kilat sambar menyambar begitu sama sekali tak aman. Mereka harus mencari tempat lain untuk berteduh.</p>
<p style="text-align: justify">Petir menggelegar lagi. Percik api beterbangan kesana sini.</p>
<p style="text-align: justify">Dan entah kenapa, pemandangan gunung- gunung biru gelap di kejauhan dengan kilat menyambar dan pecik api yang beterbangan itu mengingatkan Dhanapati pada Kiran&#8230;</p>
<p style="text-align: justify">Apa kabarmu, adik kecil, bisik hati Dhanapati&#8230;</p>
<p style="text-align: center">***</p>
<p style="text-align: justify">
<div id="attachment_176" class="wp-caption aligncenter" style="width: 386px"><a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2012/04/db4136f45a2be5e369acd9565e6fd874_volcano.jpg"><img class="size-full wp-image-176" src="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2012/04/db4136f45a2be5e369acd9565e6fd874_volcano.jpg" alt="Gambar: topnews.in" width="376" height="361" /></a><p class="wp-caption-text">Gambar: topnews.in</p></div>
<p><span style="text-align: justify">Kiran bergerak- gerak gelisah dalam tidurnya.</span></p>
<p style="text-align: justify">Dia bermimpi.</p>
<p style="text-align: justify">Buaya!</p>
<p style="text-align: justify">Ada tiga ekor buaya, kini berada tepat di depannya.</p>
<p style="text-align: justify">Dua ekor diam menatapnya. Yang seekor bergerak, datang menghampiri dengan mulut terbuka dan mulai menggigitnya.</p>
<p style="text-align: justify">Kiran menjerit, berkelit, melawan, berusaha melepaskan diri…</p>
<p style="text-align: justify">Dipukulinya buaya itu. Dan pada satu saat, gigitannya terlepas.</p>
<p style="text-align: justify">Kiran mengurungkan niatnya untuk mencapai daratan di seberang. Dia menjauhi buaya itu dan berlari menelusuri air.</p>
<p style="text-align: justify">Air bening itu sebuah sungai rupanya. Kiran terus berlari… berlari… berlari… menjauhi para buaya.</p>
<p style="text-align: justify">Sungai itu panjang, jauh dan berkelok- kelok, seakan tak berujung.</p>
<p style="text-align: justify">Kiran terus berlari. Entah sudah berapa lama dia berlari di dalam air ketika di depannya tiba- tiba tampak daratan. Sebuah padang agak berpasir dengan sedikit rumput di sana sini.</p>
<p style="text-align: justify">Kiran dengan lega keluar dari air, naik ke daratan itu.</p>
<p style="text-align: justify">Dan…</p>
<p style="text-align: justify">Belum lama dia bisa menarik napas lega, sebuah gunung besar yang tampak di depannya tiba- tiba meletus.</p>
<p style="text-align: justify">Ada banyak api berpendaran. Dan sambaran- sambaran berupa kilat yang entah muncul darimana.  Percik api dan bebatuan terlempar ke udara.</p>
<p style="text-align: justify">Kiran memandangi langit yang tampak seperti latar belakang sebuah kengerian tak terperi.</p>
<p style="text-align: justify">Kilat menggelegar lagi.</p>
<p style="text-align: justify">Kiran, berdiri di tengah- tengah padang tak bertepi itu, berdiri tegak memandangi semuanya. Bagaimana dia akan bisa meloloskan diri dari hujan batu dan api semacam ini?</p>
<p style="text-align: justify">(bersambung)</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 7pt"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right"><span style="font-size: 7pt">** sumber gambar: topnews.in **</span></p>
<p style="text-align: justify">
<p><a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"><img style="border: 0 !important" src="http://signatures.mylivesignature.com/54490/49/F9CD887516487DB2B15B776B380F5337.png" alt="" /></a></p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2012/04/14/eps-47-hujan-batu-dan-api-di-padang-tak-bertepi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Eps 46. Mencari Jalan Keluar</title>
		<link>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2012/04/01/eps-46-mencari-jalan-keluar/</link>
		<comments>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2012/04/01/eps-46-mencari-jalan-keluar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Apr 2012 03:15:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>padepokanrumahkayu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Darah di Wilwatikta]]></category>

		<category><![CDATA[cerita silat]]></category>

		<category><![CDATA[cersil]]></category>

		<category><![CDATA[gerabah]]></category>

		<category><![CDATA[kerajaan galuh]]></category>

		<category><![CDATA[kilat]]></category>

		<category><![CDATA[majapahit]]></category>

		<category><![CDATA[mencium]]></category>

		<category><![CDATA[mendesah]]></category>

		<category><![CDATA[menggeliat]]></category>

		<category><![CDATA[terowongan]]></category>

		<category><![CDATA[trowulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[HIRUK pikuk suara pedagang dan pembeli dan pertukaran barang serta uang terus terjadi di pasar kota Trowulan.
Begitu pula di kios gerabah milik Mbah Wongso.
Setelah anak kecil yang diantar orang tuanya untuk membeli celengan, datang pembeli lain, seorang ibu yang hendak membeli kendi untuk wadah air minum.  Lalu pembeli lain lagi, yang membutuhkan mangkuk.
Di kios [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><strong>HIRUK</strong> pikuk suara pedagang dan pembeli dan pertukaran barang serta uang terus terjadi di pasar kota Trowulan.</p>
<p style="text-align: justify">Begitu pula di kios gerabah milik Mbah Wongso.</p>
<p style="text-align: justify">Setelah anak kecil yang diantar orang tuanya untuk membeli <a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/11/20/eps-43-rencana-pencarian-kalung-yang-hilang/">celengan</a>, datang pembeli lain, seorang ibu yang hendak membeli kendi untuk wadah air minum.  Lalu pembeli lain lagi, yang membutuhkan mangkuk.</p>
<p style="text-align: justify">Di kios sebelah, pedagang batik menggelar beberapa helai kain, menunjukkan motif- motif yang berbeda pada calon pembelinya yang memegang dan meneliti kain- kain itu.</p>
<p style="text-align: justify">Suara ringkik kuda yang menanti sang pemilik yang sedang berbelanja sesekali terdengar pula dari arah jalan, meningkahi semua hiruk pikuk itu.</p>
<p style="text-align: justify">Berbeda dengan keriuhan di luar, di dalam sebuah kamar yang terhubung dengan pintu dari kios gerabah milik mbah Wongso, suasana senyap yang terasa.</p>
<p style="text-align: justify">Kedatangan Pendekar Padi Emas dengan seorang prajurit dari Kerajaan Sunda Galuh yang diluar rencana membuat beberapa pendekar yang ada di dalam ruangan itu harus memikirkan apa tindakan yang harus mereka ambil.</p>
<p style="text-align: justify">Mereka semua mulanya ada di sana untuk mengatur rencana pencarian Kiran, sang tabib muda yang diculik  serta melacak keberadaan Putri Harum Hutan yang tergabung dalam kelompok Para Pelindung yang Tersumpah . Pendekar Gegurit Wungu telah diputuskan untuk berangkat mencari Kiran. Dan kini tiba- tiba Pendekar Padi Emas datang dengan seorang prajurit Kerajaan Sunda Galuh yang saat itu sedang berperang dengan prajurit Kerajaan Majapahit.</p>
<p style="text-align: justify">Pendekar Padi Emas berdiri di muka pintu, sementara prajurit Sunda Galuh yang bernama Kayan berdiri di belakangnya. Dengan tatapan dingin menusuk Pendekar Padi Emas memperhatikan ketiga pendekar lain yang ada di dalam ruangan itu.</p>
<p style="text-align: justify">Sang pendekar tampan Gegurit Wungu menimbang- nimbang. Pendekar Wolu Likur tampak berpikir keras. Tindakan Pendekar Padi Emas yang membantu Prajurit Sunda Galuh ini sungguh tindakan berbahaya. Itu tindakan yang bisa membuat mereka semua menjadi <a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2012/02/01/eps-45-menjadi-musuh-kerajaan-majapahit/">musuh kerajaan</a>.</p>
<p style="text-align: justify">Pendekar Misterius, yang juga ada di dalam ruangan tersebut juga belum bersuara. Wajah ramahnya tampak tetap tenang dan seperti biasa dia berusaha membuat suasana tegang menjadi cair. Alih- alih langsung menjawab Pendekar Padi Emas, dia memilih untuk menoleh pada prajurit dari kerajaan Sunda Galuh itu.</p>
<p style="text-align: justify">“ <em>Mangga calik</em>, “ katanya pada Kayan, mempersilahkan prajurit tersebut untuk duduk.</p>
<p style="text-align: justify">Kayan tampak terkejut sejenak, lalu senyum lebarnya terkembang. Disapa dengan bahasa daerahnya dalam situasi seperti yang sedang dihadapinya merupakan suatu kejutan yang menyenangkan.</p>
<p style="text-align: justify">“ <em>Hatur n</em><em>uhun</em>, “ jawab Kayan, seraya mengangguk saat menyampaikan ucapan terimakasihnya itu. Kalimat itu dilanjutkannya dengan, “ <em>Geuningan tiasa nyarios basa Sunda?</em> “</p>
<p style="text-align: justify">Tak seorangpun dari semua pendekar yang ada di ruangan tersebut mengerti apa yang dikatakan Kayan. Begitu pula Pendekar Misterius yang lalu tertawa mengatakan pada Kayan bahwa dia tak memahami apa yang dikatakan prajurit tersebut sebab sebenarnya dia tak bisa berbahasa Sunda kecuali beberapa kata- kata pendek saja serupa “mangga calik” yang tadi diucapkannya.</p>
<p style="text-align: justify">Kayan mengangguk maklum. Pendekar lain di ruangan itu mulai tersenyum. Suasana tegang yang tadi terasa mulai mencair…</p>
<p style="text-align: center">***</p>
<p style="text-align: justify"><a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/09/19/buluh-perindu-penggoda-sukma/">Kiran</a> terkejut.</p>
<p style="text-align: justify">Ada air yang datang tiba- tiba entah darimana. Air berwarna kecoklatan itu terus meninggi dan kini mencapai mata kakinya.</p>
<p style="text-align: justify">Banjir !<br />
<span id="more-168"></span><br />
Dia berada di sebuah terowongan. Tak jauh di depannya, tampak mulut terowongan. Kiran melangkah menuju mulut terowongan tersebut untuk menghindari banjir yang datang. Dan dia tercekat. Entah bagaimana, tampak dari arah mulut terowongan itu, air kecoklatan datang menghampiri. Arusnya lebih deras dan tampak lebih tinggi dari banjir di tempat yang sedang dipijaknya saat ini.</p>
<p style="text-align: justify">Jalannya tertutup. Dia tak bisa keluar melalui mulut terowongan itu.</p>
<p style="text-align: justify">Kiran menoleh ke arah kanan. Terowongan alam itu terbuka sedikit di sisi kanannya. Kiran memutuskan untuk keluar dari terowongan melalui celah tersebut. Terang benderang disisi itu. Matahari bersinar dengan cerah.</p>
<p style="text-align: justify">Kiran melangkah, dan …</p>
<p style="text-align: justify">Oh.</p>
<p style="text-align: justify">Bukan daratan rupanya yang ada di situ, tapi juga air yang terbentang.</p>
<p style="text-align: justify">Kiran mengamati.</p>
<p style="text-align: center"><a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2012/04/7f094e58c1c72c98979e26d419cc185a_terowongan.jpg"><img class="size-full wp-image-170" src="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2012/04/7f094e58c1c72c98979e26d419cc185a_terowongan.jpg" alt="Sumber gambar: igougo.com" width="351" height="284" /></a></p>
<p style="text-align: justify">Air itu sungguh jernih. Bening dengan pantulan biru kehijauan. Sementara air yang membanjir di dalam terowongan berwarna coklat pekat.</p>
<p style="text-align: justify">Tak ada pilihan lain.</p>
<p style="text-align: justify">Kiran terjun ke air bening yang tenang itu.</p>
<p style="text-align: justify">Dan sesaat setelah dia berada di dalam air, dia merasa sangat gembira.</p>
<p style="text-align: justify">Tempat itu dangkal, ternyata. Kiran bisa melihat bebatuan dan kerikil di dasarnya. Airnya dingin menyejukkan. Ah, betapa menyenangkannya, pikir Kiran.</p>
<p style="text-align: justify">Perlahan dia mengarungi air. Bermaksud naik ke daratan di sisi yang berseberangan.</p>
<p style="text-align: justify">Namun…</p>
<p style="text-align: justify">Kiran terpekik.</p>
<p style="text-align: justify">Dadanya berdegup kencang.</p>
<p style="text-align: justify">Buaya!</p>
<p style="text-align: justify">Ada tiga ekor buaya, kini berada tepat di depannya.</p>
<p style="text-align: justify">Dua ekor diam menatapnya. Yang seekor bergerak, datang menghampiri dengan mulut terbuka dan mulai menggigitnya.</p>
<p style="text-align: justify">Kiran menjerit, berkelit, melawan, berusaha melepaskan diri…</p>
<p style="text-align: center">***</p>
<p style="text-align: justify">Sementara itu tempat lain, Kaleena, sang putri dari seberang lautan, dan Dhanapati melangkah bersisian.</p>
<p style="text-align: justify">Kaleena tak lagi merasa canggung. Dia tak lagi berusaha menutupi bagian dadanya yang terbuka dari Dhanapati. Sebab itu tak lagi perlu, setelah apa yang terjadi <a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/06/14/eps-38-airmata-dewa-yang-murka/">malam sebelumnya</a>.</p>
<p style="text-align: justify">Hujan turun dengan lebat malam itu. Kilat berkelebat terus menerus, disusul bunyi gemuruh yang memekakkan gendang telinga.</p>
<p style="text-align: justify">Angin berhembus kencang. Sangat kencang. Pucuk pepohonan dipaksanya menari. Semak belukar berputar seperti pusaran alam. Desau angin dan gerak pepohonan terdengar menakutkan.</p>
<p style="text-align: justify">Kilat menyambar lagi.</p>
<p style="text-align: justify">Kaleena sungguh ketakutan. Dia sudah melupakan bagian atas tubuhnya yang terbuka. Tangannya tak lagi memeluk dada tapi meraih lengan Dhanapati, sembari menyurukkan kepalanya ke dada lelaki itu.</p>
<p style="text-align: justify">Dhanapati dengan refleks memeluknya. Tubuh mereka saling bersentuhan. Dan tak terhindarkan, Dhanapati merasakan kehangatan menjalar di seluruh tubuhnya ketika tangannya menyentuh kulit halus Kaleena.</p>
<p style="text-align: justify">Hujan terus mengguyur deras. Desau angin masih terdengar. Kilatpun terus menyambar. Tapi Dhanapati nyaris tak menyadari semua itu.</p>
<p style="text-align: justify">Tangannya menelusuri kehalusan yang mengundang dalam peluknya itu.</p>
<p style="text-align: justify">“Dhanapati&#8230;”</p>
<p style="text-align: justify">“Iya?”</p>
<p style="text-align: justify">“Ka&#8230; kamu jangan nakal&#8230;”</p>
<p style="text-align: justify">“Nakal apanya?”</p>
<p style="text-align: justify">“Ja..jarimu.  Ja&#8230;ngan&#8230;”</p>
<p style="text-align: justify">&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify">“Dhanapati.. &#8230;”</p>
<p style="text-align: justify">&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify">“Geli&#8230; Dhanapati&#8230;.”</p>
<p style="text-align: justify">&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify">“A&#8230;aduhhh&#8230;”</p>
<p style="text-align: justify">“Kamu kenapa Kaleena?”</p>
<p style="text-align: justify">“Ah&#8230; ti&#8230; tidak,” bisik gadis itu terengah. “Aku digigit nyamuk&#8230;”</p>
<p style="text-align: justify">Dhanapati tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify">Dia tahu, bukan nyamuk penyebab Kaleena mengaduh barusan. Dhanapati tak mengatakan apa- apa lagi. Kini bukan hanya jemarinya, tapi juga bibirnya mulai menelusuri kehalusan dan keharuman kulit sang putri.</p>
<p style="text-align: justify">Kaleena menggeliat, mendesah. Masih berusaha mencegah tapi tak kuasa melakukannya. Kehangatan laki- laki itu menular padanya. Kaleena meleleh dan menyerah pasrah&#8230;</p>
<p>( bersambung )</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>** gambar diambil dari:&nbsp;<a href="http://igougo.com" title="http://igougo. " target="_blank">igougo.com</a></span> **</p>
<p><a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"><img style="border: 0 !important" src="http://signatures.mylivesignature.com/54490/49/F9CD887516487DB2B15B776B380F5337.png" alt="" /></a></p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2012/04/01/eps-46-mencari-jalan-keluar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Eps 45. Menjadi Musuh Kerajaan Majapahit?</title>
		<link>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2012/02/01/eps-45-menjadi-musuh-kerajaan-majapahit/</link>
		<comments>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2012/02/01/eps-45-menjadi-musuh-kerajaan-majapahit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 16:21:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>padepokanrumahkayu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Darah di Wilwatikta]]></category>

		<category><![CDATA[cerita silat]]></category>

		<category><![CDATA[cersil]]></category>

		<category><![CDATA[galuh]]></category>

		<category><![CDATA[lapangan bubat]]></category>

		<category><![CDATA[majapahit]]></category>

		<category><![CDATA[musuh kerajaan]]></category>

		<category><![CDATA[trowulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[

PADI Emas adalah pendekar berpengalaman. Dan bermata tajam. Dari sekian banyak adegan pertempuran yang tersaji di depan mata, dia melihat sesuatu yang tidak biasa.
Ada tiga lelaki dari Sunda Galuh yang mengeroyok seorang prajurit Majapahit. Perkelahian mereka sengit. Seru. Namun mata Padi Emas yang tajam tak bisa dibohongi. Perkelahian yang terlihat seru itu jelas sekali hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">
<a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2012/02/perang-bubat.jpg"><img class="size-full wp-image-167" src="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2012/02/perang-bubat.jpg" alt="Perang Bubat. Gambar: transbonja.deviantart.com" width="641" height="251" /></a>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify"><strong>PADI</strong> Emas adalah pendekar berpengalaman. Dan bermata tajam. Dari sekian banyak adegan pertempuran yang tersaji di depan mata, dia melihat sesuatu yang tidak biasa.</p>
<p style="text-align: justify">Ada tiga lelaki dari Sunda Galuh yang mengeroyok seorang prajurit Majapahit. Perkelahian mereka sengit. Seru. Namun mata Padi Emas yang tajam tak bisa dibohongi. Perkelahian yang terlihat seru itu jelas sekali hanya sandiwara!!!</p>
<p style="text-align: justify">Dengan penuh perhatian dia mengamati perkelahian itu. Si prajurit Majapahit terdesak hingga ke tepi lapangan. Dan suatu ketika, dia terjatuh. Para pengeroyok mengerubungi. Salah seorang di antaranya dengan cepat mengangkat si prajurit Majapahit dan melemparkan ke luar lapangan.</p>
<p style="text-align: justify">Prajurit Majapahit itu jatuh bergelimpangan. Dia menatap sejenak ke arah lelaki yang melemparkannya, mengangguk nyaris tak kentara, dan menghilang di tangah kerumunan masyarakat yang memadati tepi Lapangan Bubat.</p>
<p>Semua kejadian itu disaksikan oleh Padi Emas. Yang langsung curiga.</p>
<p style="text-align: justify">Kenapa ada prajurit Sunda Galuh dan Majapahit yang pura-pura bertarung? Dan kenapa prajurit Majapahit itu tiba-tiba keluar dari areal pertarungan?</p>
<p style="text-align: justify">Padi Emas membuntuti prajurit Majapahit itu. Dan dalam sekejap, ketika melihat si prajurit Majapahit itu seperti kebingungan, seperti tak tahu harus kemana, pendekar yang berpengalaman itu bisa memahami apa yang terjadi.</p>
<p>Tanpa menyolok dia mendekati si prajurit.</p>
<p>&#8220;Ada yang bisa saya bantu?&#8221; Padi Emas berbisik.</p>
<p style="text-align: justify">Si prajurit terlonjak kaget. Wajahnya pucat pasi. Jelas sekali dia ketakutan dan kebingungan. Matanya liar menatap sekeliling.</p>
<p>&#8220;Ah&#8230; eh&#8230; ti&#8230; tidak&#8230;&#8221; si prajurit tergagap.</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;Kisanak tak perlu berpura-pura. Aku tahu kalau kisanak adalah prajurit Sunda Galuh yang menyamar bukan?&#8221; Padi Emas berbisik sambil memegang lengan si prajurit.</p>
<p>Si prajurit terbelalak. Wajahnya ketakutan seperti melihat hantu.</p>
<p>&#8220;Kau tak perlu takut,&#8221; bisik Padi Emas. &#8220;Aku akan membantumu. Ikut aku&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify">Padi Emas bukanlah pendekar yang suka ikut campur urusan orang. Dia sendiri tidak tahu dorongan dari mana yang membuatnya spontan ingin membantu prajurit itu. Mungkin karena dia trenyuh melihat pembantaian di depan mata dan tidak bisa berbuat apa-apa?</p>
<p style="text-align: justify">Seperti yang diduga, prajurit itu memang menyamar. Namanya Kayan, dan ditugaskan khusus untuk melarikan diri. Baginda Maharaja Lingga Bhuwana sadar kalau kepungan Majapahit yang sangat rapat tak mungkin diterobos. Namun biar bagaimanapun, harus ada prajurit Sunda Galuh yang lolos. Untuk memberitahu kepada masyarakat Sunda Galuh apa yang terjadi di Lapangan Bubat.</p>
<p style="text-align: justify">Baginda menugaskan beberapa prajurit untuk berpura-pura. Kayan pun mengenakan sarung yang morifnya mirip dengan yang dikenakan prajurit Majapahit.</p>
<p style="text-align: justify">Aksi pura-pura mereka berlangsung mulus. Hingga ke tepi lapangan tak ada yang curiga. Kayan pun berhasil lolos. Namun sebagai penduduk Sunda Galuh yang belum pernah ke Trowulan, dalam sekejap dia bingung. Tak tahu arah mana untuk keluar.</p>
<p>Dan muncullan Padi Emas yang mengatakan siap membantu.</p>
<p style="text-align: justify">Kayan terpaksa menurut. Dalam keadaan bingung, dia tak punya pilihan. Dia menyerahkan nyawanya kepada Padi Emas. Dia tahu, jika si lelaki ini berniat jahat, pasti sudah sejak awal dia membuka rahasia.</p>
<p>Padi Emas membawa Kayan ke kios yang akan dijadikan pertemuan dengan beberapa penbdekar.</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;Jadi begitulah,&#8221; cerita Padi Emas kepada Pendekar Misterius, Wolu Likur dan Gegurit Wungu. &#8220;Aku tak punya pilihan lain. Aku harus membantu lelaki ini kembali ke Sunda Galuh. Semoga teman-teman pendekar bisa memahami&#8230;&#8221;</p>
<p>Ketiga pendekar terdiam. Saling pandang.</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;Saudara Padi Emas, semoga kau sadar apa yang barusan kau lakukan. Kau baru saja membantu musuh kerajaan. Artinya, sejak kini kau menjadi musuh kerajaan Majapahit!!&#8221; kata Gegurit Wungu.</p>
<p>&#8220;Dan jika kami membantumu, otomatis kami juga menjadi musuh kerajaan,&#8221; tambah Wolu Likur.</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;Aku tentu sadar apa resikonya,&#8221; kata Padi Emas. &#8220;Aku hanya tidak menyangka kalau saudara pendekar ketakutan menjadi musuh kerajaan&#8230;.&#8221; Padi Emas berkata dingin. (Bersambung)</p>
<p style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal"><span>** Gambar:&nbsp;<a href="http://transbonja.deviantart.com" title="http://transbonja.deviantart. " target="_blank">transbonja.deviantart.com</a> **</span></p>
<p><a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"><img style="border: 0 !important" src="http://signatures.mylivesignature.com/54490/49/F9CD887516487DB2B15B776B380F5337.png" alt="" /></a></p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2012/02/01/eps-45-menjadi-musuh-kerajaan-majapahit/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Eps 44. Garuda Nglayang di Lapangan Bubat</title>
		<link>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2012/01/19/eps-44-garuda-nglayang-di-lapangan-bubat/</link>
		<comments>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2012/01/19/eps-44-garuda-nglayang-di-lapangan-bubat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 13:59:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>padepokanrumahkayu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Darah di Wilwatikta]]></category>

		<category><![CDATA[formasi tempur]]></category>

		<category><![CDATA[lapangan bubat]]></category>

		<category><![CDATA[majapahit]]></category>

		<category><![CDATA[sunda galuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[

NYARIS serempak, Pendekar Misterius, Wolu Likur dan Gegurit Wungu berdiri. Mereka sudah tahu kalau Pendekar Padi Emas akan muncul.
&#8220;Mari silakan,&#8221; kata Wolu Likur. &#8220;Eh ada yang tidak beres?&#8221; Wolu Likur bertanya heran melihat raut wajah Padi Emas.
&#8220;Eh, iya. Sebenarnya&#8230; aku&#8230;&#8221; Padi Emas berkata setengah gagap.
&#8220;Katakan saja, saudaraku. Kita orang sendiri,&#8221; kata Pendekar Misterius.
&#8220;Emm&#8230; Sebenarnya ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2012/01/garuda.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-165" src="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2012/01/garuda.jpg" alt="garuda" width="479" height="263" /></a></p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify"><strong>NYARIS</strong> serempak, Pendekar Misterius, Wolu Likur dan Gegurit Wungu berdiri. Mereka sudah tahu kalau Pendekar Padi Emas akan muncul.</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;Mari silakan,&#8221; kata Wolu Likur. &#8220;Eh ada yang tidak beres?&#8221; Wolu Likur bertanya heran melihat raut wajah Padi Emas.</p>
<p>&#8220;Eh, iya. Sebenarnya&#8230; aku&#8230;&#8221; Padi Emas berkata setengah gagap.</p>
<p>&#8220;Katakan saja, saudaraku. Kita orang sendiri,&#8221; kata Pendekar Misterius.</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;Emm&#8230; Sebenarnya ini bukan tentang aku. Tapi seseorang yang nyawanya terancam,&#8221; ujar Padi Emas. Dia melongok sejenak ke luar dan menggapai. Beberapa saat kemudian seorang lelaki yang wajahnya letih muncul. Lelaki itu pucat. Lengan dan kakinya berdarah, juga pundak. Lukanya sudah dibebat seadanya.</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;Kenalkan, ini Kayan, prajurit Sunda Galuh,&#8221; Padi Emas berujar sambil mengerahkan ilmu mengirimkan suara. Kata-katanya hanya bisa didengar oleh ketiga pendekar di depannya.  &#8220;Mungkin Kayan satu-satunya prajurit Sunda Galuh yang lolos dari pembantaian di Lapangan Bubat&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;Ahhhh&#8230;&#8221; Pendekar Misterius berseru kaget, seperti disengat ular berbisa. Begitu juga Wolu Likur dan Gegurit Wungu. Tentu saja mereka mendengar kabar kedatangan rombongan penganten dari Sunda Galuh, putri mahkota Sunda galuh yang kabarnya bakal disunting Yang Mulia Baginda Raja Majapahit. Namun ketiganya tidak begitu tertarik soal jodoh, karena perhatian mereka dicurahkan untuk mencari Kiran.</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;Apa yang terjadi?&#8221; bisik Gegurit Wungu sambil menatap sekeliling. Sesuatu yang tidak perlu sebenarnya karena di bilik itu hanya ada mereka.</p>
<p style="text-align: justify">Pendekar Padi Emas menarik nafas panjang. Wajahnya keruh. &#8220;Pembantaian. Nyawa melayang hanya karena keinginan menguasai wilayah. Dan jodoh serta perkawinan dijadikan sebagai alat&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Duduk dulu, Padi Emas. Ceritamu pasti panjang,&#8221; kata Wolu Likur.</p>
<p style="text-align: justify">Padi Emas mengangguk, dan duduk di sebuah bangku kecil. Dia mempersilakan Kayan duduk di dekatnya.</p>
<p>Padi Emas lalu bercerita&#8230;.</p>
<p style="text-align: center">***</p>
<p style="text-align: justify">Beberapa saat setelah gong dibunyikan, rombongan pasukan Sunda Galuh memasuki lapangan. Diawali munculnya tiga gajah dan iring-iringan empat kereta. Kemudian para pasukan berkuda. Mereka nampak gagah.</p>
<p style="text-align: justify">Tiga lelaki berkuda yang membawa panji Majapahit terlihat mendatangi rombongan. Terjadi pembicaraan. Tidak jelas apa yang didiskusikan karena beberapa saat kemudian tiga pengendara kuda itu kembali. Di saat bersamaan, terjadi perubahan di rombongan Sunda Galuh. Gajah dan kereta dibuat dalam formasi lingkaran. Para prajurit terlihat membentuk barisan dalam formasi siap tempur.</p>
<p style="text-align: justify">Bunyi gong kembali terdengar, kini bertalu-talu. Terdengar pekikan di sana sini. Prajurit Majapahit menyerbu.</p>
<p style="text-align: justify">Dari tepi lapangan Padi Emas mengamati dengan penuh perhatian. Dia sudah sering menyaksikan prajurit Majapahit berlatih perang. Ini pertama kali dia melihat prajurit menyerang lawan. Menyerang untuk menghancurkan.</p>
<p style="text-align: justify">Mata Padi Emas yang tajam dapat melihat kalau formasi menyerang Majapahit tidak sembarangan. Pasukan berkuda dan yang berjalan kaki menyerang dalam formasi tertentu. Setelah mengamati dengan seksama Padi Emas mengenali kalau Majapahit menyerang menggunakan formasi tempur yang disebut Garuda Nglayang (Garuda Melayang).</p>
<p style="text-align: justify">Formasi tempur ini mengandalkan kekuatan pasukan yang besar seperti burung Garuda melayang. Gerakan pasukan secara umum  meniru gerakan burung Garuda. Beberapa senopati  memimpin pasukan di paruh, kepala, sayap dan ekor, memberikan perintah kepada anak buahnya untuk menyambar, mematuk dan mencengkeram.</p>
<p style="text-align: justify">Padi Emas mengenali Senopati Kebo Branjang memimpin pasukan pada posisi paruh, di belakangnya Senopati Swastri dan Senopati Trisuryo memimpin pasukan  pada posisi  kepala burung. Begawana Bhuriswara di sayap kiri dan Senopati Bango Ngrontol di sayap kanan. Dua orang yang mengenakan penutup kepala nampak memimpin pasukan pada posisi  cakar kaki, dan Senopati Kiageng Ngah memimpin pasukan pada posisi ekor yang merupakan  pasukan penyapu bersih.</p>
<p style="text-align: justify">Dilibatkannya sejumlah senopati kelas atas dan teroganisirnya pasukan merupakan pertanda kalau Majapahit memandang pertempuran dengan pasukan Sunda Galuh sangat penting. Bahkan maha penting sehingga tidak boleh gagal.</p>
<p style="text-align: justify">Pasukan Sunda Galuh menyikapi serangan dengan dua formasi. Pertama Formasi Wukir Jaladri (Gunung Lautan) dengan membentuk lingkaran dari gajah dan kereta sebagai &#8216;gunung di tengah laut&#8217;. Baginda Maharaja Lingga Bhuwana bersama sang putri Dyah Pitaloka Citraresmi memimpin formasi ini.</p>
<p style="text-align: justify">Sebagian prajurit Sunda Galuh yang dipimpin Mangkubumi Hyang Bunisora membentuk formasi  Jurang Grawah. Mereka sengaja menciptakan celah berupa jurang guna dimasuki prajurit Majapahit. Lawan yang terpancing memasuki jurang langsung dibinasakan. Formasi Jurang Grawah hanya bisa dibentuk oleh pasukan yang punya kemampuan beladiri, yang kemampuannya jauh di atas para penyerbu.</p>
<p style="text-align: justify">Awalnya pasukan Sunda Galuh bisa mengimbangi. Prajurit yang membentuk formasi Jurang Grawah menewaskan banyak pasukan Majapahit. Sementara formasi Wukir Jaladri sangat kokoh dan sukar ditembus.</p>
<p style="text-align: justify">Namun bagaimanapun, para penyerbu adalah pasukan Majapahit. Sebagian di antaranya telah melewati sejumlah pertempuran membela panji Majapahit di seberang samudera. Setelah sempat tertahan, perlahan pasukan Majapahit mulai menekan. Formasi Garuda Melayang pun beraksi. Paruh mematuk, sayap menggempur, cakar mencengkeram.</p>
<p style="text-align: justify">Dari tepi lapangan padi Emas melihat pertempuran berat sebelah itu. Jeritan kesakitan dan teriakan menjelang ajal terdengar bagai tembang dari lembah kematian.</p>
<p>Lapangan Bubat bersimbah darah.</p>
<p style="text-align: justify">Dengan trenyuh Padi Emas menyaksikan pemandangan itu. Dan dia kemudian melihat sesuatu yang tidak lazim. (bersambung)</p>
<p><em>Catatan</em></p>
<p><em>Deskripsi formasi tempur dalam kisah ini dikutip dari milis Tjersil</em></p>
<p><em>Salam,<br />
</em></p>
<p><a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"><img style="border: 0 !important" src="http://signatures.mylivesignature.com/54490/49/F9CD887516487DB2B15B776B380F5337.png" alt="" /></a></p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2012/01/19/eps-44-garuda-nglayang-di-lapangan-bubat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Eps 43. Rencana Pencarian Kalung yang Hilang</title>
		<link>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/11/20/eps-43-rencana-pencarian-kalung-yang-hilang/</link>
		<comments>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/11/20/eps-43-rencana-pencarian-kalung-yang-hilang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Nov 2011 14:56:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>padepokanrumahkayu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Darah di Wilwatikta]]></category>

		<category><![CDATA[pendekar gegurit wungu]]></category>

		<category><![CDATA[rencana penyelamatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[SIANG itu, suasana pasar ramai seperti biasa. Para pedangang dan pembeli hilir mudik tanpa henti.
Di mulut pasar, seorang pedagang batik sibuk melayani pembelinya. Di kios sebelahnya, terdapat pedagang yang menjual aneka barang yang terbuat dari kuningan. Kios ketiga menjual penganan kecil. Kios berikutnya adalah kios yang menjual buah- buahan.
Terletak di samping kios penjual buah itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SIANG</strong> itu, suasana pasar ramai seperti biasa. Para pedangang dan pembeli hilir mudik tanpa henti.</p>
<p>Di mulut pasar, seorang pedagang batik sibuk melayani pembelinya. Di kios sebelahnya, terdapat pedagang yang menjual aneka barang yang terbuat dari kuningan. Kios ketiga menjual penganan kecil. Kios berikutnya adalah kios yang menjual buah- buahan.</p>
<p>Terletak di samping kios penjual buah itu, adalah kios milik Mbah Wongso. Kios tersebut menjual beragam gerabah. Dari celengan, mangkuk, gelas, poci dan beraneka barang lain. Beberapa pengunjung tampak memegang dan memilih barang- barang yang mereka butuhkan.</p>
<p><a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2011/11/gerabah1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-160" src="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2011/11/gerabah1.jpg" alt="gerabah1" width="301" height="283" /></a></p>
<p>Sepasang suami istri menunjukkan beberapa buah celengan pada seorang anak lelaki berumur sekitar tujuh tahun. Anak itu memperhatikan celengan- celengan tersebut , lalu menunjuk salah satunya.</p>
<p><em>“ Niki pinten, mbah ? “</em> , Ayah sang anak bertanya pada mbah Wongso, menanyakan harga celengan yang ditunjuk oleh anaknya.</p>
<p>Mbah Wongso menjawab, mengatakan harga yang dimintanya. Lalu tawar menawar terjadi. Kesepakatan tercapai. Ibu si anak menyodorkan uang pada mbah Wongso, kemudian memberikan celengan yang baru saja dibeli pada anaknya yang terlonjak gembira.</p>
<p>Mbah Wongso tersenyum. Tingkah kanak- kanak yang polos selalu menyenangkan hati.</p>
<p>Setelah suami istri beserta anak mereka meninggalkan kiosnya, mbah Wongso mengalihkan perhatiannya pada pengunjung kios yang lain.</p>
<p>Semua berjalan seperti biasa. Tak satupun dari para pengunjung kios itu yang menduga bahwa di dalam ruangan dibalik pintu yang terletak di belakang tumpukan gerabah itu ada beberapa pendekar sedang berkumpul.<br />
<span id="more-158"></span><br />
Pendekar Misterius dan pendekar Wolu Likur duduk bersisian. Di hadapan mereka duduk seorang pendekar lain. Pendekar ini berkulit bersih, tampan, dengan pembawaan yang tampak sangat tenang.</p>
<p>“ Dukuh Sangkor ini letaknya sekitar sehari perjalanan dari Dukuh Lebak, “ Pendekar Gegurit Wungu, sang pendekar tampan itu, berkata pada kedua orang yang duduk di hadapannya.</p>
<p>Kedua pendekar yang diajaknya bicara mengiyakan.</p>
<p>“ Beberapa pendekar terbaik dari Padepokan Rumah Kayu akan dikirimkan untuk menemani dalam perjalanan, “ kata Pendekar Misterius pada Pendekar Gegurit Wungu. “ Malam ini mereka sudah akan tiba di Trowulan. Istriku akan mengatur keberangkatan mereka dari padepokan ke Kotaraja ini. “</p>
<p>Pendekar Gegurit Wungu mengangguk.</p>
<p>Pendekar Misterius serta istrinya, Nyai Daunilalang adalah <a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/03/20/eps-28-pesan-dalam-kipas-kertas/">kawan lama </a>Pendekar Gegurit Wungu. Mereka kerap kali bertemu dalam pertemuan- pertemuan para pendekar pujangga, pendekar- pendekar yang memiliki minat dalam sastra.</p>
<p>Segera setelah memperoleh <a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/06/05/eps-37-kabar-tentang-kalung-yang-dicuri/">kabar</a> datang ke Pawon ManteraKata mengenai tempat dimana Kiran diculik, kabar itu diteruskan ke beberapa pendekar dalam jaringan Para Pelindung Yang Tersumpah.</p>
<p>Pendekar Gegurit Wungu adalah salah seorang pendekar yang menerima kabar tersebut di tempat kediamannya, Joglo Abang. Dan segera setelah dia mengetahui bahwa tempat dimana Kiran menghilang adalah <a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/03/22/eps-29-wayang-golek-tanpa-darah/">Dukuh Sangkor</a>, dia mengajukan diri untuk berangkat ke sana.</p>
<p>Dukuh Sangkor merupakan daerah yang dikenalinya, sebab dia memiliki beberapa kerabat yang tinggal di Dukuh Lebak, tak jauh dari Dukuh Sangkor. Pengenalan terhadap tempat akan menjadi hal yang menguntungkan di saat pencarian seperti ini.</p>
<p style="text-align: center">***</p>
<p>Ketiga pendekar di ruang belakang kios gerabah masih terus membicarakan lebih rinci mengenai rencana pencarian Kiran ketika pintu yang menghubungkan ruangan dimana mereka berada dengan kios gerabah terbuka.</p>
<p>Seorang pendekar bermata tajam berdiri di muka pintu.</p>
<p>Tak seorangpun dari mereka mengenalnya. Hal itu disadari oleh pendekar yang baru datang itu.</p>
<p>“ Sang Surya Terbit dan Menanyakan Hujan, “ segera pendekar bermata tajam itu mengucapkan kata sandi. “ Perkenalkan, namaku <a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/07/03/maut-mengintip-di-lapangan-bubat/">Pendekar Padi Emas</a> dari Bukit Sangian… “</p>
<p>( bersambung )</p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--[if gte mso 10]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 7pt"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 7pt">** gambar diambil dari&nbsp;<a href="http://kompas.com" title="http://kompas. " target="_blank">kompas.com</a> **</span></p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/11/20/eps-43-rencana-pencarian-kalung-yang-hilang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Eps 42. Buluh Perindu Penggoda Sukma</title>
		<link>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/09/19/buluh-perindu-penggoda-sukma/</link>
		<comments>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/09/19/buluh-perindu-penggoda-sukma/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Sep 2011 05:31:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>padepokanrumahkayu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Darah di Wilwatikta]]></category>

		<category><![CDATA[buluh perindu]]></category>

		<category><![CDATA[seruling]]></category>

		<category><![CDATA[tidur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[KIRAN melap bibirnya yang berminyak, dan dengan nikmat mereguk air putih dari gelas bambu. Dia menarik nafas panjang, merasakan kesejukan yang merasuk di dada. Setelah sempat dilanda ketegangan, bisa menikmati santap malam dengan nyaman sangatlah menyenangkan. Dia menatap Mohiyang yang juga sudah selesai makan. Nenek renta ini hanya makan sedikit.
Kedua perempuan beda usia ini saling pandang. Merasakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KIRAN</strong> melap bibirnya yang berminyak, dan dengan nikmat mereguk air putih dari gelas bambu. Dia menarik nafas panjang, merasakan kesejukan yang merasuk di dada. Setelah sempat dilanda ketegangan, bisa menikmati santap malam dengan nyaman sangatlah menyenangkan. Dia menatap Mohiyang yang juga sudah selesai makan. Nenek renta ini hanya makan sedikit.</p>
<p>Kedua perempuan beda usia ini saling pandang. Merasakan suasana yang aneh. Keduanya tak saling kenal, namun kini seperti ditautkan oleh suatu perasaan, entah apa.</p>
<p>Dari kejauhan, debur ombak masih terdengar bersahutan, seperti berloma membelah pantai. Dan tiba-tiba terdengar alunan seruling, yang terdengar samar di antara debur ombak.</p>
<p>&#8220;Aneh, siapa yang meniup seruling di tempat ini?&#8221; Kiran bertanya sambil merapikan daun yang digunakan sebagai wadah makan. <span id="more-155"></span></p>
<p>&#8220;Mungkin penggembala sapi,&#8221; jawab Mohiyang.</p>
<p>&#8220;Penggembala sapi, di tepi pantai seperti ini?&#8221; ujar Kiran sambil membuang tulang-belulang sisa ikan yang tadi disantap.</p>
<p>&#8220;Memang kenapa? Yang dibutuhkan sapi hanyalah rumput segar, dan di tepi pantai ini banyak rumput segar,&#8221; kata Mohiyang.</p>
<p>&#8220;Ahhh&#8230; Aku kenyang sekali,&#8221; kata Kiran. &#8220;Aku merasa sangat mengantuk&#8230;&#8221; katanya sambil menguap.</p>
<p>Mohiyang menatap Kiran, merasa lucu melihat sikap gadis itu yang sangat polos. Dan tiba-tiba Mohiyang juga merasa mengantuk. Rasa kantuk yang sangat kuat.</p>
<p>Mohiyang menggelengkan kepala. Aneh, tidak biasanya dia merasa mengantuk di jam seperti ini. Matahari baru saja terbenam di peraduan. Dia biasanya merasa mengantuk menjelang tengah malam.</p>
<p>Nenek itu menatap Kiran, dan terheran melihat wajah gadis itu yang kini kemerahan. Matanya sayu.</p>
<p>&#8220;Kiran, kau kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku mengantuk sekali, nek. Hoaaaaahemmm&#8230;.&#8221; Kiran segera merebahkan kepalanya ke meja sederhana di pondok itu.</p>
<p>Mohiyang Kalakuthana adalah jagoan yang sangat berpengalaman. Rambutnya telah memutih oleh berbagai pengalaman hidup. Melihat sikap Kiran, dia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Kenapa Kiran dan juga dia tiba-tiba merasa mengantuk? Rasa kantuk ini sangat tidak wajar.</p>
<p>Ahhhh!!!!</p>
<p>Suara seruling itu, pikir Mohiyang.</p>
<p><a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2011/09/seruling.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-156" src="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2011/09/seruling.jpg" alt="seruling" width="467" height="700" /></a></p>
<p>Dia menggoyang pundak Kiran. &#8220;Kiran sadarlah. Kita diserang oleh ilmu Buluh Perindu Penggoda Sukma!!!&#8221;</p>
<p>Kiran yang sudah hampir terlena, terkejut mendengar ucapan Mohiyang. Sebagai tabib muda, Kiran mengenal hampir seluruh ilmu beladiri yang ada di Nusantara, terutama di Jawadwipa. Dari yang dipelajarinya, Buluh Perindu Penggoda Sukma adalah jenis beladiri yang menyerang lawan menggunakan suara. Beladiri ini sangat sukar dipelajari, karena untuk menguasainya seseorang harus memiliki tenaga sakti yang sangat tinggi. Tenga sakti inilah yang mengendalikan suara hingga bisa menyerang lawan.</p>
<p>&#8220;Su&#8230; suara seruling&#8230; itu&#8230;&#8221; Kiran berujar sambil membelalakkan mata, seakan dengan terbelalak dia akan terbebas dari rasa kantuk yang sangat hebat.</p>
<p>&#8220;Iya. Peniup seruling itu hebat. Kerahkan tenaga saktimu Kiran, dan lawan keinginan untuk tidur!!&#8221; Mohiyang segera bersila, dan berkonsentrasi melawan serangan lawan yang datang dalam bentuk suara.</p>
<p>Kiran juga mencoba melawan. Wajah gadis cantik ini berpeluh. Dia mencoba berkonsentrasi, namun alunan seruling kini terdengar makin jelas. Alunan yang meliuk, seperti menari di gendang telinga. Seperti bidadari yang berbisik dan membujuknya untuk tidur.</p>
<p>&#8220;A&#8230; aku ti..dak bisa. A&#8230;ku mengantuk sekali nek,&#8221; Kiran berbisik lirih, dan menguap. Tatapan matanya nanar.</p>
<p>&#8220;Bertahanlah Kiran, jika tertidur, mereka akan mudah menguasaimu&#8230;&#8221;</p>
<p>Kiran menggelengkan kepala, dan setelah menguap, dia merebahkan kepalanya ke pundak Mohiyang.</p>
<p>&#8220;Kiran!!! Kiran!!! Bangun. Ah sial!!&#8221; Di antara debur ombak dan lantunan bunyi seruling, Mohiyang mendengar kisaran angin yang khas. Bunyi pakaian yang ditiup angin.</p>
<p>Ada yang datang, pikir Mohiyang. Dan ilmu beladiri mereka hebat, jauh lebih hebat dibanding lima jagoan yang semalam dikalahkannya.</p>
<p>Mohiyang menatap wajah Kiran yang terlelap. Gadis ini sungguh polos. Perlahan dia mengelus pipi gadis itu, mengelus penuh kasih.</p>
<p>&#8220;Mereka harus melangkahi mayatku jika ingin mendapatkanmu, Kiran&#8230;&#8221; Perlahan dia merogoh sakunya, mengeluarkan benda berbentuk bulat berwarna hitam kebiruan. Perlahan dia membuka mulut Kiran dan memasukkan benda bulat itu. Mohiyang kemudian menutup hidung gadis itu sambil perlahan meneteskan air dari gelas bambu.</p>
<p>Benda bulat yang dipaksakan minum ke Kiran adalah penangkal racun.</p>
<p>Setelah merapikan rambutnya yang memutih, perlahan Mohiyang menggosok kedua tangannya.</p>
<p>&#8220;Aku dijuluki si Ratu Racun. Malam ini, akan aku perlihatkan bahwa julukan itu bukan omong kosong!!!&#8221;   (bersambung)</p>
<p>*gambar diambil dari <a href="http://www.hawksounds.com/flutes.html" target="_blank">hawksound</a>*</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/09/19/buluh-perindu-penggoda-sukma/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Eps 41. Para Penguntit</title>
		<link>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/09/11/eps-41-para-penguntit/</link>
		<comments>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/09/11/eps-41-para-penguntit/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Sep 2011 13:51:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>padepokanrumahkayu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Darah di Wilwatikta]]></category>

		<category><![CDATA[iwak wader]]></category>

		<category><![CDATA[trowulan]]></category>

		<category><![CDATA[wader pari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/09/11/eps-41-para-penguntit/</guid>
		<description><![CDATA[SENJA mulai menyapa. Udara hangat membanjiri Trowulan. Sesekali angin berhembus, membuat daun- daun di pohon beringin yang banyak berada di sekeliling kota bergerak- gerak halus.
Di Pawon Mantera Kata, Mbak Yu Tri membalik iwak wader di sebuah wajan terbuat dari gerabah.  Wajan itu berisi wader pari, ikan kecil- kecil yang gurih. Mbak Yu Tri membiarkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SENJA</strong> mulai menyapa. Udara hangat membanjiri Trowulan. Sesekali angin berhembus, membuat daun- daun di pohon beringin yang banyak berada di sekeliling kota bergerak- gerak halus.</p>
<p>Di Pawon Mantera Kata, Mbak Yu Tri membalik iwak wader di sebuah wajan terbuat dari gerabah.  Wajan itu berisi wader pari, ikan kecil- kecil yang gurih. Mbak Yu Tri membiarkan ikan tersebut sebentar lagi dalam wajan tersebut untuk membuatnya lebih kering, lalu mengangkatnya.</p>
<p>Sebelum ikan, tadi telah lebih dahulu digorengnya tempe. Kini tinggal menyiapkan sambal dan daun kemangi sebagai pelengkap wader dan tempe goreng tersebut.</p>
<p>Diliriknya para tamu Pawon Mantera Kata. Dari dapurnya, memang ada sebuah jendela yang membuat Mbak Yu Tri dapat melihat para tamu. Dari situ, dia juga dapat dengan jelas melihat pintu utama Pawon Mantera Kata. Dengan begitu, mudah baginya untuk memantau keadaan kedainya saat dia sedang memasak pesanan para tamu di dapur.</p>
<p>Mbak Yu Tri agak gelisah.</p>
<p>Diliriknya beberapa orang di meja pojok. Beberapa orang ada di sana. Orang- orang yang sebetulnya tak terlalu dia sukai tapi sering muncul di kedainya.</p>
<p>Seorang perempuan genit bernama Lendi Cidra. Peramu obat kerajaan Majapahit.</p>
<p>Seorang lelaki dengan raut muka yang jauh dari tampan. Matanya licik, hidungnya bulat dan giginya menyembul besar- besar. Kedip Dursasana.</p>
<p>Merekalah yang memesan wader pari ini.</p>
<p><em>Dungaren</em>, pikir Mbak Yu Tri dalam hati. Tak biasanya mereka memesan makanan. Walau biasa berlama- lama di Pawon Mantera Kata, kedua orang tersebut seringkali hanya memesan minuman saja.</p>
<p>Mbak Yu Tri sedang mulai meracik bahan sambal di cobek yang berada di atas meja ketika ada bayangan sekelebat tertangkap di matanya.</p>
<p>Dia mengangkat kepalanya. Seorang perempuan memasuki Pawon Mantera Kata. Sekitar tiga tombak di belakangnya, seorang lelaki – mungkin pembantu atau pengawal – melangkah perlahan.<br />
<span id="more-153"></span><br />
Mbak Yu Tri juga mengenali tamu ini. Dia mengamati tamu tersebut, yang seperti telah diduganya, membelok ke arah meja dimana Lendi Cidra dan Kedip Dursasana berada.</p>
<p>Keduanya, pada saat itu dengan tergesa- gesa bangkit berdiri dari duduknya. Mereka menanti sampai tamu yang baru datang tersebut mendekat lalu berebut menunjukkan kursi kosong yang mereka persilahkan untuk diduduki tamu kehormatan itu.</p>
<p>Nyimas Hidan Mangarya, begitu mereka semua mengenal nama perempuan yang hari itu datang dengan mengenakan busana batik halus tersebut.</p>
<p>Hidan Mangarya adalah nama suaminya, seorang petinggi Kotaraja. Entah siapa nama aslinya sendiri, sangat sedikit yang mengetahuinya sebab Nyimas Hidan Mangarya begitu bangga atas statusnya sebagai istri seorang petinggi dan karenanya dengan sengaja memperkenalkan diri dimana- mana dengan nama suaminya.</p>
<p style="text-align: center">***</p>
<p>Sambal sudah siap dihidangkan. Mbak Yu Tri menaruh potongan- potongan tempe dan daun kemangi di atas cobek itu. Sementara iwak wader dihidangkannya dalam piring lain. Dengan cekatan diangkatnya cobek dan piring tersebut, dan dibawanya ke meja dimana Lendi Cidra, Kedip Dursasana serta Nyimas Hidan Mangarya berada.</p>
<p>“ Jadi, mereka belum kembali, Nyimas? “ Lendi Cidra dengan suara genit yang dibuat- buat bertanya pada Nyimas Hidan Mangarya. Mbak Yu Tri mengerenyitkan dahinya sekerjapan mata. Reaksi spontan yang tak dapat ditahannya saat mendengar kegenitan Lendi Cidra. Heran, pikir Mbak Yu Tri, tak dapatkah dia berbicara tanpa nada genit yang memuakkan itu?</p>
<p>Nyimas Hidan Mangarya sedang menggelengkan kepala dan berkata, “ Tidak. Belum, maksudku. Mereka belum kembali. “ Lalu, sebelum ada diantara mereka yang bersuara lagi, dia berkata lagi, “ Juga tak ada surat yang datang untuk mengabari… “</p>
<p>Kedip Dursasana membuka mulut, “ Kita tunggu saja sampai besok. Besok mungkin sudah ada kabar, “ katanya.</p>
<p>Lendi Cidra dan Nyimas Hidan Mangarya mengangguk. Baiklah, akan mereka tunggu kabar itu sehari lagi…</p>
<p style="text-align: center">***</p>
<p>Di suatu tempat di tepi samudra, lidah air terus menjilat tebing yang berdiri kokoh di sekitarnya. Suara debur ombak terus menerus terdengar tanpa henti.</p>
<p>Kiran dan Mohiyang Kalakuthana sedang memasak sore itu. Mereka membakar dua ekor ikan dan merebus beberapa jenis sayuran yang tumbuh di sekitar pondok kayu tempat mereka tinggal. Gerisik air dari pepohonan besar di sekitar mereka terdengar berpadu dengan suara ombak.</p>
<p><a href="%5C"></a><a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2011/09/ikan-bakar1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-154" src="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2011/09/ikan-bakar1.jpg" alt="ikan-bakar1" width="331" height="348" /></a></p>
<p>Kiran tak banyak bersuara. Setelah kejadian <a href="%5C">semalam</a>, kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan. Mohiyang menceritakan padanya bahwa kelima orang yang dia lumpuhkan di tengah hutan tadi malam adalah orang- orang yang datang untuk merebut Kiran dari Mohiyang. Mereka meminta Mohiyang menyerahkan Kiran.</p>
<p>Permintaan itu ditolak Mohiyang. Karena itulah terjadi perkelahian yang kemudian dimenangkan Mohiyang.</p>
<p>Pagi tadi, kelima orang tersebut telah pergi menjauh dari tempat dimana malam sebelumnya mereka bertempur. Terseok- seok kelimanya pergi dan melangkah secepat mereka bisa dibawah tatapan menusuk Mohiyang Kalakuthana – tak mudah sebab mereka baru saja cedera dalam pertempuran melawan si nenek sakti tersebut</p>
<p>Lagi- lagi ada orang- orang yang menghendaki dirinya. Apa yang mereka cari sebenarnya dengan menguntit dan berusaha menculikku seperti ini, pikir Kiran. Ada apa sebenarnya?</p>
<p style="text-align: center">***</p>
<p>Dalam sebuah bilik tersembunyi di bagian belakang sebuah kios yang menjual gerabah, beberapa orang lelaki tampak berunding. Mereka berbisik- bisik pelan, mematangkan rencana&#8230;</p>
<p>( bersambung )</p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--[if gte mso 10]&gt;--></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.0pt">** gambar diambil dari <a href="http://hungryinhouston.wordpress.com/">hungryinhouston.wordpress.com </a>**</span></p>
<p class="\&quot;MsoNormal\&quot;">
<p class="\&quot;MsoNormal\&quot;">
<p class="\&quot;MsoNormal\&quot;"><span style="\"><br />
</span></p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/09/11/eps-41-para-penguntit/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Eps 40. Maut Mengintip di Lapangan Bubat</title>
		<link>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/07/03/maut-mengintip-di-lapangan-bubat/</link>
		<comments>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/07/03/maut-mengintip-di-lapangan-bubat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jul 2011 08:27:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>padepokanrumahkayu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Darah di Wilwatikta]]></category>

		<category><![CDATA[dyah pitaloka citraresmi]]></category>

		<category><![CDATA[gajah mada]]></category>

		<category><![CDATA[galuh sunda]]></category>

		<category><![CDATA[lapangan bubat]]></category>

		<category><![CDATA[majapahit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[PENDEKAR Padi Emas melangkah menyusuri  jalan berbatu di Trowulan. Seperti biasa, ibukota Kerajaan Majapahit ini ramai oleh lalulalang penduduknya.  Sebagai kota terbesar di Jawadwipa, tak mengherankan jika Trowulan menjadi daya tarik utama, bukan hanya masyarakat biasa, namun juga berbagai tipe pedagang yang datang dari berbagai daerah.
Kios gerabah yang dituju letaknya tidak jauh, dan Pendekar Padi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PENDEKAR</strong> Padi Emas melangkah menyusuri  jalan berbatu di Trowulan. Seperti biasa, ibukota Kerajaan Majapahit ini ramai oleh lalulalang penduduknya.  Sebagai kota terbesar di Jawadwipa, tak mengherankan jika Trowulan menjadi daya tarik utama, bukan hanya masyarakat biasa, namun juga berbagai tipe pedagang yang datang dari berbagai daerah.</p>
<p><a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/06/19/eps-39-utusan-para-pembawa-kegelapan/" target="_blank">Kios gerabah</a> yang dituju letaknya tidak jauh, dan Pendekar Padi Emas merasa tidak perlu terburu-buru. Dia mencoba menikmati setiap denyut yang terasa di kota ini. Dia menarik nafas dalam-dalam, mencoba merasakan aroma sebuah kota. Selalu menyenangkan bisa berada di kota, pikirnya.</p>
<p>Dia terus melangkah, menikmati dan meresapi pemandangan. Hingga dia merasa ada sesuatu yang salah.<span id="more-148"></span></p>
<p>Dia memperlambat langkahnya, mengamati. Sepintas, semuanya terlihat normal. Tapi ada sesuatu yang mengusik perasaannya. Namun apa?</p>
<p>Pendekar Padi Emas menghentikan langkahnya, mendekati penjual sate ayam yang menjajakan dagangannya di tepi jalan. Dia menatap sekeliling. Mengamati dengan lebih seksama. Mencoba mencari sesuatu yang tidak biasa.</p>
<p>Dan samar, dia bisa merasakan ketegangan. Ketegangan yang terpancar dari sebagian besar masyarakat, baik yang lalu-lalang maupun yang berdiri di tepi jalan. Tapi ketegangan karena apa?</p>
<p>Dia kembali mengamati, dan akhirnya tanpa sadar menepuk dahinya. Kini dia tahu kenapa sejak awal dia merasa ada yang tidak beres. Karena sebagian besar masyarakat yang lalu lalang adalah prajurit. Prajurit yang siap berperang!!</p>
<p>Sebagai pendekar kelas atas, Padi Emas telah bertemu banyak tipe manusia. Dia juga dapat merasakan aura membunuh yang terpancar. Dan aura inilah yang dirasakannya tadi. Aura membunuh yang berasal dari prajurit yang menyamar.</p>
<p>Tapi kenapa ada prajurit yang menyamar, di Trowulan pula? Apakah sebentar lagi Yang Mulia Baginda akan melalui jalan ini, dan para prajurit itu bertugas untuk mengamankan? Namun jika hanya untuk pengamanan, kenapa aura membunuhnya sangat besar?<br />
Pendekar Padi Emas kembali menatap sekeliling. Bahkan tukang sate yang berada di dekatnya adalah samaran!!</p>
<p>Pedagang sate di dekatnya menjajakan sate yang sudah jadi. Tidak terlihat daging mentah dan tusuk sate. Juga tak ada perapian. Sambal kecap yang merupakan pasangan dari sate ayam juga tak tersedia. Si pedagang juga terlihat tak mempedulikan dagangannya. Tak sekalipun dia menyapa orang yang lalulalang agar mampir dan membeli. Perhatian si pedagang tertuju ke sebuah lokasi yang letaknya di sebelah kanan.</p>
<p>Pendekar Padi Emas mengikuti arah pandangan si pedagang sate. Si tukang sate sedang mengamati Lapangan Bubat, lapangan terbesar di Trowulan.</p>
<p>Ada apa, atau mungkin tepatnya, apa yang akan terjadi di Lapangan Bubat?</p>
<p>Pendekar Padi Emas berjalan melewati si tukang sate palsu dan mendekati kios tuak yang cukup ramai. Pemilik kios adalah seorang kakek renta kurus kering. Seorang perempuan bertubuh montok nampak melayani pembeli. Perempuan ini cantik, dan rupanya hal itu yang menjadi daya tarik utama para pelanggan. Dia hanya mengenakan kain yang menutupi pinggang. Sekilas Padi Emas melirik dua bukit kembar yang membusung penuh milik perempuan itu. Bukit kembar itu bergerak perlahan setiap kali perempuan itu berjalan.</p>
<p>“Tuak denmas?” kakek itu menyapa sopan. Senyumnya tulus. Gigi kakek yang tinggal beberapa itu hitam.</p>
<p>Padi Emas mengangguk. Perempuan montok itu mendekati Padi Emas, dan dengan senyum agak genit menuangkan tuak ke sebuah gelas yang terbuat dari bambu berukir.</p>
<p>“Silakan denmas, jika ingin tambah silakan memanggil saya,” kata si perempuan sambil melontarkan lirikan menggoda.</p>
<p>Padi Emas kembali menganggukkan kepala. Ini bukan pertama kali dia dilirik oleh perempuan. Bukan sekedar lirikan, namun yang sifatnya mengajak. Padi Emas bukanlah pendekar yang anti perempuan. Tidak. Terkadang dia juga menikmati kehangatan tubuh perempuan.</p>
<p>Lirikan perempuan ini, ditambah tubuhnya yang sintal sempat mengusik kelelakiannya. Namun Padi Emas menyingkirkan jauh-jauh perasaan itu. Dia ke Trowulan bukan untuk bersenang-senang. Ada hal lebih penting yang harus dikerjakan. Soal perempuan, itu bisa menunggu. Lagipula perempuan penjaja tuak ini pasti tak akan pergi jauh-jauh.</p>
<p>“Rupanya akan ada keramaian sebentar lagi?” Padi Emas bertanya basa-basi.</p>
<p>Kakek itu balik menatap Padi Emas. “Denmas pasti orang baru di Trowulan ya?” melihat Padi Emas mengangguk si kakek melanjutkan,” Denmas benar. Sebentar lagi akan ada keramaian. Rombongan Kerajaan Sunda Galuh sebentar lagi akan tiba. Rombongan Kerajaan Sunda Galuh mengantar putri Dyah Pitaloka Citraresmi yang akan diperistri Yang Mulia Baginda Raja&#8230;”</p>
<p>“Ah, jadi pinangan Yang Mulia Baginda Raja diterima?”</p>
<p>“Iya. Pihak Kerajaan Sunda Galuh menyambut baik pinangan itu,” sahut si kakek. “Tentu saja, pinangan ini sukar ditolak. Gadis mana yang mampu menolak pinangan Baginda Hayam Wuruk yang perkasa, tampan, dan merupakan penguasai kerajaan terbesar di Nusantara?”</p>
<p>Padi Emas mengangguk. Beberapa purnama lalu dia pernah mendengar kabar tentang pinangan yang diajukan Baginda Hayam Wuruk, yang bermaksud memperistri dan menjadikan putri Sunda Galuh, Dyah Pitaloka Citraresmi sebagai permaisuri. Kabar tentang kecantikan putri Dyah Pitaloka telah tersebar ke berbagai penjuru negeri dan banyak yang menganggapnya sebagai pasangan yang sepadan untuk Baginda Penguasa Majapahit.</p>
<p>Jadi, ini rupanya alasan kenapa banyak prajurit yang menyamar dan berdiri di sekitar Lapangan Bubat. Tapi kenapa aura membunuhnya sangat besar?</p>
<p>Padi Emas kembali mengawasi sekeliling. Bukan hanya prajurit menyamar yang mengelilingi Lapangan Bubat. Namun juga barisan pendam yang terdiri atas beberapa kelompok. Di sebuah bukit di kejauhan terlihat beberapa orang yang menunggang kuda, dalam formasi menunggu.</p>
<p>Padi Emas merogoh kantongnya, mengeluarkan sebuah tabung berwarna perak yang panjangnya sejengkal. Tabung ini pemberian seorang saudagar asal Persia. Padi Emas mendekatkan tabung itu ke mata kanannya. Jemarinya memutar kepala tabung. Sosok penunggang kuda di bukit itu kini terlihat jelas, seperti berada beberapa tombak di dekatnya. Tabung ajaib ini memang bisa memperbesar obyek di kejauhan. Dan tanpa sadar Padi Emas merinding. Dia mengenali kedelapan sosok yang duduk diam di atas kuda itu. Mereka adalah Bhayangkara Biru, dipimpin ketuanya Bhagawan Buriswara!!</p>
<p>Kenapa Bhayangkara Biru juga ikut mengawasi Lapangan Bubat? Sejauh yang dia tahu, Bhayangkara Biru bertugas mengejar penjahat yang lolos dari jeratan hukum. Namun kenapa mereka ikut mengawasi Lapangan Bubat? Apakah ini ada hubungannya dengan kedatangan Kerajaan Sunda Galuh?</p>
<p>Padi Emas mereguk tuak dalam sekali tarikan nafas. Dia mengangsurkan gelas bambu yang kosong kepada si gadis. Masih dengan senyum manis gadis itu menuangkan tuak.</p>
<p>Padi Emas merasakan aliran hawa yang panas di dada. Tuak ini walau manis namun cukup keras. Tubuhnya mulai terasa hangat. Dia kembali mengawasi. Padi Emas memutuskan akan berada di tempat ini hingga rombongan Kerajaan Galuh tiba.</p>
<p style="text-align: center">***</p>
<p>“Aku tidak menyukai ini&#8230;”</p>
<p>“Kau telah lima kali mengatakannya, Sancaka. Dan kami juga telah mendengarnya&#8230;”</p>
<p>“Iya. Aku telah lima kali mengatakannya, dan aku akan mengulangi untuk kali keenam. Aku tidak menyukai ini&#8230;”</p>
<p>“Tapi bukankah kau memang tidak menyukai apapun, Sancaka?”</p>
<p>“Aku serius, Brontoseno. Bukan ini yang aku harapkan ketika pertama kali bergabung dengan Bhayangkara Biru. Aku bergabung untuk menghajar penjahat. Dan aku yakin, kalian semua setuju bahwa rombongan Kerajaan Galuh bukanlah penjahat&#8230;”</p>
<p>Diam. Tak ada yang menimpali ucapan Sancaka. Hanya desir angin yang perlahan mengoyang dedaunan.</p>
<p>“Kita adalah prajurit, Sancaka. Tugas kita bukanlah melakukan yang kita sukai tapi melaksanakan perintah&#8230;”</p>
<p>“Aku tahu hal itu, Bayu Segara. Kita ini prajurit yang tugasnya melaksanakan perintah. Namun kita bukanlah wayang yang tak punya hati&#8230;”</p>
<p>Bayu Segara tak menyahut. Mereka kembali terdiam. Yang terdengar hanya desir angin yang masih menggoyang dedaunan.</p>
<p>Nyaris serempak, lima lelaki dan dua perempuan itu melirik ke sosok perkasa yang berada dua tombak di depan mereka. Lelaki yang sejak tadi hanya berdiam diri. Bhagawan Buriswara.</p>
<p>Bhagawan Buriswara masih menatap Lapangan Bubat. Wajahnya keruh. Dia bukannya tak mengerti arah pembicaraan anak buahnya.</p>
<p>Sejak awal, sejak hari pertama terbentuknya Bhayangkara Biru, dia memang sengaja memberi keleluasan kepada anggotanya untuk bicara terbuka. Untuk menyampaikan uneg-uneg yang mengganjal di hati. Pekerjaan mereka berlandaskan saling percaya satu sama lain, dan itu hanya bisa terlaksana jika di antara mereka tak ada ganjalan.</p>
<p>Selama bertahun-tahun, baru sekali anak buahnya menentangnya dengan sengit. Dengan emosional. Yakni ketika dia memutuskan untuk mengejar dan menghabisi Dhanapati, anggota kelima yang mengundurkan diri. Dia ingat bagaimana emosionalnya mereka ketika dia mengungkap rencana itu. Setelah marah-marah, keenam anak buahnya berlutut hingga tubuh mereka nyaris rata dengan tanah, memohon dengan air mata bercucuran agar dia membatalkan rencana itu.</p>
<p>Namun keputusannya saat itu telah bulat. Dan sekalipun dengan hati terluka, keenam anak buahnya bisa menerima keputusan itu. Dan mereka juga bersedia melaksanakannya. Sebagai prajurit pilihan mereka tahu tugas mereka. Mereka menyadari posisi sebagai bawahan yang hanya melaksanakan perintah. Sekalipun bertentangan dengan nurani, mereka melakukannya dengan sepenuh hati.</p>
<p>Bhagawan Buriswara bukannya tidak tahu kalau anak buahnya menyimpan rasa bersalah ketika mereka <a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/01/09/eps-1-lebih-hitam-dari-kegelapan%E2%80%A6/" target="_blank">mengepung Dhanapati</a>. Saat bertarung, mereka nyaris tak pernah menatap dan beradu pandang dengan Dhanapati. Mereka bertarung sambil menatap tubuh, dan bukannya mata.</p>
<p>Kini, penolakan yang sama muncul ketika dia membeberkan rencana Yang Mulia Mahapatih. Kedatangan rombongan Galuh ke Trowulan akan dijadikan Mahapatih sebagai jembatan untuk merealisasikan mimpi yang tertunda. Yakni menyatukan Nusantara di bawah panji Majapahit. Sejauh ini, nyaris semua negara telah mengakui kebesaran Majapahit. Nyaris, karena masih ada dua wilayah yang belum terkalahkan. Yakni Kerajaan Galuh dan sebuah wilayah kecil bernama Malesung yang ada di sebelah utara.</p>
<p>Selama beberapa tahun terakhir, Kerajaan Galuh telah menjadi semacam bisul yang mengganggu. Berbeda dengan Malesung yang telah tercapai semacam kesepakatan,  Galuh sama sekali tidak tersentuh. Mahapatih Gajah Mada sudah beberapa kali mengirimkan pasukan terpilih guna menyerang Galuh. Namun semua serangan bisa dipatahkan dengan telak.</p>
<p>Begitu pinangan Yang Mulia Baginda diterima kerajaan Galuh, Mahapatih melihat ini sebagai peluang yang harus dimanfaatkan.<br />
Dan sebentar lagi rombongan kerajaan Galuh yang membawa penganten akan tiba. Mimpi Mahapatih bahwa seluruh kerajaan di Nusantara akan bersatu di bawah panji Majapahit akan terwujud.</p>
<p>Tentu, untuk mewujudkan mimpi itu ada harga yang harus dibayar. Akan ada darah yang harus ditumpahkan. Dan hal ini yang ditentang anak buahnya.</p>
<p>Kesunyian dihentakkan oleh bunyi gong yang terdengar dari kejauhan. Gemanya terdengar seperti kidung patah hati.</p>
<p>“Mereka sudah tiba,” kata Buriswara. “Ingat, apa yang kita lakukan ini demi kebesaran Majapahit. Yang akan kita lakukan ini akan dikenang anak cucu kita hingga ratusan tahun mendatang.” Buriswara mencabut pedangnya, yang mengkilat terkena  Sang Surya.</p>
<p><a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2011/07/maut-mengintip.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-149" src="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2011/07/maut-mengintip.jpg" alt="maut-mengintip" width="347" height="262" /></a></p>
<p>Kilatan pedang itu seperti seringai maut yang mengintip di Lapangan Bubat. (bersambung)</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/07/03/maut-mengintip-di-lapangan-bubat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Eps 39. Utusan Para Pembawa Kegelapan</title>
		<link>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/06/19/eps-39-utusan-para-pembawa-kegelapan/</link>
		<comments>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/06/19/eps-39-utusan-para-pembawa-kegelapan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jun 2011 15:05:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>padepokanrumahkayu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Darah di Wilwatikta]]></category>

		<category><![CDATA[beringin]]></category>

		<category><![CDATA[bunga tanjung]]></category>

		<category><![CDATA[gerabah]]></category>

		<category><![CDATA[para pembawa kegelapan]]></category>

		<category><![CDATA[trowulan]]></category>

		<category><![CDATA[wringin lawang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[GULITA malam memeluk ribuan pepohonan yang memenuhi hutan di bibir tebing yang berbatasan dengan sebuah samudera.
Mohiyang Kalakuthana melangkah keluar dari pondok kayu yang terletak di hutan tersebut. Beberapa tombak di belakangnya, Kiran mengamati dengan waspada. Tangannya menggenggam selendang halus berwarna pelangi yang terikat di pinggangnya.
Kiran melihat Mohiyang berjalan dengan kecekatan yang mengagumkan. Tak tampak sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>GULITA</strong> malam memeluk ribuan pepohonan yang memenuhi hutan di bibir tebing yang berbatasan dengan sebuah samudera.</p>
<p>Mohiyang Kalakuthana melangkah keluar dari pondok kayu yang terletak di hutan tersebut. Beberapa tombak di belakangnya, Kiran mengamati dengan waspada. Tangannya menggenggam selendang halus berwarna pelangi yang terikat di pinggangnya.</p>
<p>Kiran melihat Mohiyang berjalan dengan kecekatan yang mengagumkan. Tak tampak sama sekali bahwa usianya sudah lanjut. Dia melangkah cepat, hampir tanpa suara. Menunjukkan ketinggian ilmu yang dimilikinya.</p>
<p>Mohiyang telah meminta Kiran untuk membiarkannya mencari sumber suara dari luar pondoknya. Tapi tentu saja Kiran tak dapat membiarkan nenek tua itu melakukan hal tersebut sendirian.  Segera setelah sosok Mohiyang tak lagi tertangkap oleh pandangnya, Kiran melangkah keluar pondok.</p>
<p>Kiran menajamkan pendengarannya. Diantara gerisik daun dan suara debur ombak, didengarnya  dia dapat menangkap beberapa suara bersahutan dari arah kemana Mohiyang menuju tadi. Satu diantaranya jelas suara serak Mohiyang Kalakuthana. Kiran tak dapat menangkap jelas apa yang mereka percakapkan. Dia hanya dapat mendengar  suara seorang laki- laki berkata “ serahkan… “ , disusul jawaban yang tak dapat tertangkap jelas kata- katanya dari Mohiyang Kalakuthana.</p>
<p>Kiran meningkatkan kewaspadaannya, sebab walau tak terdengar apa yang dipercakapkan, dari nada suaranya, Kiran dapat menangkap bahwa Mohiyang tak sepakat dengan apa yang dikatakan lelaki tersebut.</p>
<p><a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2011/06/dark-forest.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-146" src="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2011/06/dark-forest.jpg" alt="dark-forest" width="470" height="269" /></a></p>
<p>Kiran melangkah lagi sambil terus berusaha mendengarkan. Tapi tak lagi didengarnya suara percakapan. Rupanya percakapan itu tak panjang. Kiran bahkan baru berjalan sekitar tiga langkah ketika tiba- tiba terdengar suara “ akkhhhh… “ yang panjang dari beberapa orang, bersahutan hampir serentak , disusul suara bergedebukan seperti ada sesuatu yang berat terjatuh.</p>
<p>Kiran tak lagi berjalan kini. Dia melompat dan melayang dengan ringan, bersegera menuju arah sumber suara.</p>
<p>Saat dia tiba disana, Kiran melihat Mohiyang Kalakuthana berdiri diantara pepohonan. Di hadapannya, di atas tanah tergeletak lima lelaki berpakaian hitam. Kesemuanya telentang dengan darah mengalir keluar dari hidung dan mulut mereka.<span id="more-145"></span></p>
<p>Mohiyang Kalakuthana sama sekali tak menampakkan keterkejutannya melihat Kiran muncul di depannya. Dia telah menduga bahwa Kiran tak akan menuruti begitu saja pesannya untuk tetap berada di pondok.</p>
<p>Dengan nada suara yang datar tanpa menunjukkan perasaan apapun, Mohiyang berkata pada Kiran, “ Bantu aku mengikat mereka, cah ayu, katanya. “</p>
<p>Kiran mengangguk. Ada sesuatu dari cara Mohiyang berkata- kata yang mencegahnya untuk bertanya. Kiran mengedarkan pandang, mencari akar pepohonan yang akan cukup kuat untuk mengikat para lelaki tersebut…</p>
<p style="text-align: center">***</p>
<p>Keesokan harinya, menjelang siang di Kotaraja…</p>
<p>Angin bertiup sepoi- sepoi menyejukkan kota Trowulan. Dedaudan di sepasang pohon beringin besar yang terletak di samping gapura Wringin Lawang di kota tersebut bergerak- gerak mengikuti irama angin.</p>
<p>Sementara itu di sebuah jalan tak jauh dari gapura tersebut, bunga tanjung berwarna putih beterbangan tertiup angin seraya menyebarkan keharumannya. Bunga putih yang mungil itu kemudian berjatuhan di tepi jalan dimana pohon tanjung sarat bunga tumbuh berderet dengan rapi.</p>
<p>Di atas kereta kudanya, pendekar Padi Emas mengamati situasi kota, sementara sais kereta kudanya mengarahkan kereta tersebut ke arah pasar yang seperti biasa tampak sibuk dan ramai. Tujuannya pasti, Pawon Mantera Kata.</p>
<p>Menjelang dini hari tadi Pendekar Padi Emas tiba di Graha Harum. Ketiga dara, Dara Merah, Dara Hijau dan Dara Biru, para pembantu Putri Harum Hutan rupanya juga ada di sana. Ketiganya pergi ke Graha Harum setelah menyampaikan pesan Putri Harum Hutan pada Pendekar Wolu Likur dan Mbakyu Tri, sesuai pesan yang diberikan oleh Putri Harum Hutan.</p>
<p>Berdasarkan cerita ketiga dara tersebutlah Pendekar Padi Emas tahu bahwa pesan serupa yang diterimanya mengenai Kiran yang diculik dari Putri Harum Hutan juga dikirimkan ke Pawon Mantera Kata. Karena itulah dia memutuskan untuk pergi ke sana.</p>
<p>Pendekar Padi Emas belum pernah datang ke Pawon Mantera Kata sebelumnya. Dia tak suka keramaian. Tak suka tempat dimana terlalu banyak orang berkumpul. Tapi dia dengan segera mengerti, jika Putri Harum Hutan mengirimkan pesan tentang Kiran kesana, maka pasti pemilik Pawon Mantera Kata tersebut juga termasuk barisan Para Pelindung yang Tersumpah.</p>
<p>Para Pelindung yang Tersumpah selama memang tak selalu satu sama lain tahu siapa saja dalam jaringan mereka. Jaringan ini dibentuk dan diwariskan turun- temurun secara rahasia. Ada beberapa pinisepuh dalam jaringan itu, yang sesuai kesepakatan, untuk menjaga agar mata rantai jaringan tak terputus, menunjuk satu keturunan mereka, biasanya anak atau keponakan, untuk juga menjadi bagian dari mata rantai. Jika salah satu dari dua orang dalam satu garis keturunan ini wafat, maka satu orang yang tersisa harus mencari satu orang lain yang akan berpasangan dengannya menjadi Para Pelindung yang Tersumpah.</p>
<p>Sais kereta kuda melambatkan laju kereta dan mengarahkan keretanya ke tepi jalan, menuju ke sebuah kedai ramai dengan pohon yang meneduhi halamannya.</p>
<p>Mereka telah tiba di Pawon Mantera Kata.</p>
<p>Pendekar Padi Emas turun dari keretanya dan melangkah masuk ke dalam kedai. Matanya yang tajam mengamati situasi tanpa kentara.</p>
<p>Dia berhenti di muka pintu melihat berkeliling. Kedai itu ramai sekali. Pendekar Padi Emas mengedarkan pandangnya, mencoba menebak mana pemilik kedai tersebut.</p>
<p>Dia tak perlu menunggu lama. Seorang perempuan mendekatinya dan dengan ramah menyapa, “ Silahkan duduk, pendekar. Di sana masih ada meja kosong, “ kata perempuan tersebut, menunjuk ke sebuah meja di bagian dalam kedai.</p>
<p>Pendekar Padi Emas menatapnya. “ Aku mencari pemilik kedai ini, “ katanya, walau dari gerak- gerik dan apa yang dikatakan oleh perempuan berkain batik coklat yang menyapanya barusan, dia telah menduga bahwa perempuan itulah pemilik kedai ini. Mbak Yu Tri, begitu nama perempuan ini, menurut informasi yang diterimanya dari ketiga Dara.</p>
<p>“ Saya pemilik kedai ini, pendekar, “ Mbak Yu Tri menjawab.</p>
<p>Pendekar Padi Emas mengangguk. Matanya tetap tampak dingin dan sangat waspada. Dengan cepat dan sangat tak kentara, dia mengucapkan sebuah kalimat, “ Sang Surya Sudah Terbit dan Menanyakan Hujan “</p>
<p>Oh. Mbakyu Tri menatapnya. Jadi dia berhadapan dengan salah seorang dari jaringan Para Pendekar Yang Tersumpah, pikir mbakyu Tri.</p>
<p>“ Pendekar, pergilah ke kios penjual gerabah di pasar. Kios kelima dari pintu utama pasar, di samping penjual buah- buahan. Pemiliknya seorang lelaki tua bernama mbah Wongso. Katakan bahwa aku yang memintamu datang ke sana untuk bertemu suamiku. Dia akan mengerti. “</p>
<p>Pendekar Padi Emas mengangguk. Tanpa mengatakan apa- apa lagi, dia keluar dari Pawon Mantera Kata, dan berjalan kaki menuju pasar yang terletak tak jauh dari sana&#8230;</p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--[if gte mso 10]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 7pt">*** gambar diambil dari: <a href="http://slamdunker.deviantart.com/">slamdunker.deviantart.com</a> ***</span></p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/06/19/eps-39-utusan-para-pembawa-kegelapan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Eps 38. Airmata Dewa yang Murka</title>
		<link>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/06/14/eps-38-airmata-dewa-yang-murka/</link>
		<comments>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/06/14/eps-38-airmata-dewa-yang-murka/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jun 2011 07:42:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>padepokanrumahkayu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Darah di Wilwatikta]]></category>

		<category><![CDATA[desah]]></category>

		<category><![CDATA[geli]]></category>

		<category><![CDATA[hujan]]></category>

		<category><![CDATA[petir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[MALAM datang seperti mimpi. Kegelapan menyelimuti persada, menghadirkan bayang-bayang mistis, seperti penari yang datang dari alam lain.
Dhanapati dan Kaleena baru saja menyantap ayam hutan panggang. Ayam hutan itu ditangkap Dhanapati ketika dia mencari sumber air. Ayam hutan jantan yang lumayan besar. Dan ternyata rasanya gurih. Dagingnya lembut kendati terasa agak tawar.
“Kelihatannya akan hujan,” kata Kaleena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MALAM</strong> datang seperti mimpi. Kegelapan menyelimuti persada, menghadirkan bayang-bayang mistis, seperti penari yang datang dari alam lain.</p>
<p>Dhanapati dan Kaleena baru saja menyantap ayam hutan panggang. Ayam hutan itu ditangkap Dhanapati ketika dia mencari sumber air. Ayam hutan jantan yang lumayan besar. Dan ternyata rasanya gurih. Dagingnya lembut kendati terasa agak tawar.</p>
<p>“Kelihatannya akan hujan,” kata Kaleena sambil menatap langit. Tak satupun bintang yang terlihat. Awan mendung pekat seperti cendawan raksasa yang menutupi cakrawala.</p>
<p>“Iya, ayo kita cari tempat untuk berteduh,” kata Dhanapati. Di hutan seperti ini, sangat kecil kemungkinan untuk mendapatkan tempat berteduh. Namun Dhanapati berharap bisa menemukan kuil atau candi, atau setidaknya sebuah dangau sederhana.</p>
<p>Namun alam rupanya menghendaki lain. Belum sempat keduanya beranjak, rintik hujan sebesar biji jagung turun ke bumi. Awalnya hanya beberapa. Namun seketika menjadi semakin banyak. Hujan lebat turun bagai airmata dewa yang murka.<span id="more-143"></span></p>
<p>Dhanapati dan Kaleena cepat-cepat pindah ke bawah pohon beringin yang rindang. Untuk sementara mereka terbebas dari terpaan hujan. Namun hujan bukan satu-satunya masalah. Karena dari arah selatan angin kencang tiba-tiba menderu.</p>
<p>“Uh, kencang sekali anginnya,” kata Kaleena yang sejak tadi memeluk dada. Gadis itu belum sepenuhnya terbiasa dengan tubuh bagian atas yang polos tanpa baju. Dia merasa kedinginan. Hembusan angin membuat dia menggigil.</p>
<p>Angin memang berhembus dengan kencang. Sangat kencang. Pucuk pepohonan dipaksanya menari. Semak belukar berputaran seperti pusaran alam. Desau angin dan gerak pepohonan terdengar seperti lagu kematian yang sumbang.</p>
<p>Dan tiba-tiba alam menjadi terang-benderang. Hanya sekejap. Diikuti bunyi yang menggelegar.</p>
<p>Petir rupanya ingin juga berpesta malam itu. Diawali dengan berkelebatnya kilat, disusul bunyi gemuruh yang memekakkan gendang telinga.</p>
<p><a href="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2011/06/petir-ditengah-hujan.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-144" src="http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/files/2011/06/petir-ditengah-hujan-300x198.jpg" alt="petir-ditengah-hujan" width="300" height="198" /></a></p>
<p>Dan kilat menyambar lagi.</p>
<p>“Ahhhh&#8230;.” Tanpa sadar Kaleena menelusupkan kepalanya ke arah Dhanapati.</p>
<p>“A&#8230; aku takut&#8230;” bisik gadis itu.</p>
<p>Kaleena boleh saja menjadi pendekar yang memiliki ilmu bela diri tinggi. Namun dia pada hakekatnya tetaplah perempuan. Yang tetap merasa ngeri dengan petir dan kilat yang menyambar-nyambar. Ditambah hembusan angin kencang disertai hujan lebat, lengkap sudah kengerian yang tiba-tiba menyelubungi hati.</p>
<p>“Tak apa-apa. Hanya petir. Ada aku di sini&#8230;” ujar Dhanapati, yang tiba-tiba merasa dadanya berdebar kencang. Tubuh gadis itu memepetnya, sangat dekat.</p>
<p>Dhanapati cepat-cepat menggelengkan kepala. Pengaruh Pohon Surga yang diminumnya ternyata masih ada. Dia merasa debur di dadanya makin kencang, sehingga untuk sesaat Dhanapati menyangka jangan-jangan gadis itu bisa mendengarnya.</p>
<p>“Dhanapati&#8230;”</p>
<p>“Iya?”</p>
<p>“Ka&#8230; kamu jangan nakal&#8230;”</p>
<p>“Nakal apanya?”</p>
<p>“Ja..jarimu.  Ja&#8230;ngan&#8230;”</p>
<p>&#8230;..</p>
<p>“Dhanapati.. &#8230;”</p>
<p>&#8230;..</p>
<p>“Geli&#8230; Dhanapati&#8230;.”</p>
<p>&#8230;..</p>
<p>“A&#8230;aduhhh&#8230;”</p>
<p>“Kamu kenapa Kaleena?”</p>
<p>“Ah&#8230; ti&#8230; tidak,” bisik gadis itu terengah. “Aku digigit nyamuk&#8230;” (bersambung)</p>
<p><em>p.s </em></p>
<p><em>Kisah selanjutnya bagusnya dibikin gimana ya? Dibikin ‘ehem-ehem’ ato gimana? Hehehehe <img src='http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </em></p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://padepokanrumahkayu.blogdetik.com/2011/06/14/eps-38-airmata-dewa-yang-murka/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 1.234 seconds -->

