• 14

    Apr

    Eps 47. Hujan Batu dan Api di Padang Tak Bertepi

    DHANAPATI melangkahkan kakinya, melompati akar- akar pohon besar. Menyingkirkan ranting- ranting yang menghalang. Mereka ada di dalam hutan yang lebat sekarang. Monyet- monyet berlompatan dari satu dahan ke dahan lain. Beberapa turun ke tanah. Dhanapati menyingkirkan dua ekor lintah yang menempel di kakinya. Di sampingnya, Kaleena memperhatikan dengan muka yang menampakkan rasa antara geli dan ngeri. Dhanapati tersenyum. Dia menghapus bekas darah yang keluar dari bagian dimana lintah tadi menggigit. Setelah itu, seakan tak ada apapun yang terjadi, dia melangkahkan kakinya lagi. Kaleena mengikuti di belakangnya. Belum lama mereka melangkah, terdengar jeritan Kaleena. Dhanapati serentak menoleh dan berbalik. Bersiap memasang kuda- kuda, untuk melawan jika ada musuh yang menghadang. Namun
  • 1

    Apr

    Eps 46. Mencari Jalan Keluar

    HIRUK pikuk suara pedagang dan pembeli dan pertukaran barang serta uang terus terjadi di pasar kota Trowulan. Begitu pula di kios gerabah milik Mbah Wongso. Setelah anak kecil yang diantar orang tuanya untuk membeli celengan, datang pembeli lain, seorang ibu yang hendak membeli kendi untuk wadah air minum. Lalu pembeli lain lagi, yang membutuhkan mangkuk. Di kios sebelah, pedagang batik menggelar beberapa helai kain, menunjukkan motif- motif yang berbeda pada calon pembelinya yang memegang dan meneliti kain- kain itu. Suara ringkik kuda yang menanti sang pemilik yang sedang berbelanja sesekali terdengar pula dari arah jalan, meningkahi semua hiruk pikuk itu. Berbeda dengan keriuhan di luar, di dalam sebuah kamar yang terhubung dengan pintu dari kios gerabah milik mbah Wongso, suasana sen
  • 1

    Feb

    Eps 45. Menjadi Musuh Kerajaan Majapahit?

    Perang Bubat. Gambar: transbonja.deviantart.com PADI Emas adalah pendekar berpengalaman. Dan bermata tajam. Dari sekian banyak adegan pertempuran yang tersaji di depan mata, dia melihat sesuatu yang tidak biasa. Ada tiga lelaki dari Sunda Galuh yang mengeroyok seorang prajurit Majapahit. Perkelahian mereka sengit. Seru. Namun mata Padi Emas yang tajam tak bisa dibohongi. Perkelahian yang terlihat seru itu jelas sekali hanya sandiwara!!! Dengan penuh perhatian dia mengamati perkelahian itu. Si prajurit Majapahit terdesak hingga ke tepi lapangan. Dan suatu ketika, dia terjatuh. Para pengeroyok mengerubungi. Salah seorang di antaranya dengan cepat mengangkat si prajurit Majapahit dan melemparkan ke luar lapangan. Prajurit Majapahit itu jatuh bergelimpangan. Dia menatap sejenak ke arah le
  • 19

    Jan

    Eps 44. Garuda Nglayang di Lapangan Bubat

    NYARIS serempak, Pendekar Misterius, Wolu Likur dan Gegurit Wungu berdiri. Mereka sudah tahu kalau Pendekar Padi Emas akan muncul. “Mari silakan,” kata Wolu Likur. “Eh ada yang tidak beres?” Wolu Likur bertanya heran melihat raut wajah Padi Emas. “Eh, iya. Sebenarnya… aku…” Padi Emas berkata setengah gagap. “Katakan saja, saudaraku. Kita orang sendiri,” kata Pendekar Misterius. “Emm… Sebenarnya ini bukan tentang aku. Tapi seseorang yang nyawanya terancam,” ujar Padi Emas. Dia melongok sejenak ke luar dan menggapai. Beberapa saat kemudian seorang lelaki yang wajahnya letih muncul. Lelaki itu pucat. Lengan dan kakinya berdarah, juga pundak. Lukanya sudah dibebat seadanya. “Kenalkan, ini Kayan, prajurit S
  • 20

    Nov

    Eps 43. Rencana Pencarian Kalung yang Hilang

    SIANG itu, suasana pasar ramai seperti biasa. Para pedangang dan pembeli hilir mudik tanpa henti. Di mulut pasar, seorang pedagang batik sibuk melayani pembelinya. Di kios sebelahnya, terdapat pedagang yang menjual aneka barang yang terbuat dari kuningan. Kios ketiga menjual penganan kecil. Kios berikutnya adalah kios yang menjual buah- buahan. Terletak di samping kios penjual buah itu, adalah kios milik Mbah Wongso. Kios tersebut menjual beragam gerabah. Dari celengan, mangkuk, gelas, poci dan beraneka barang lain. Beberapa pengunjung tampak memegang dan memilih barang- barang yang mereka butuhkan. Sepasang suami istri menunjukkan beberapa buah celengan pada seorang anak lelaki berumur sekitar tujuh tahun. Anak itu memperhatikan celengan- celengan tersebut , lalu menunjuk salah satun
  • 19

    Sep

    Eps 42. Buluh Perindu Penggoda Sukma

    KIRAN melap bibirnya yang berminyak, dan dengan nikmat mereguk air putih dari gelas bambu. Dia menarik nafas panjang,merasakan kesejukan yang merasuk di dada. Setelah sempat dilanda ketegangan, bisa menikmati santap malam dengan nyamansangatlah menyenangkan. Dia menatap Mohiyang yang juga sudah selesai makan. Nenek renta ini hanya makan sedikit. Kedua perempuan beda usia ini saling pandang. Merasakan suasana yang aneh. Keduanya tak saling kenal, namun kiniseperti ditautkan oleh suatu perasaan, entah apa. Dari kejauhan, debur ombak masih terdengar bersahutan, seperti berloma membelah pantai. Dan tiba-tiba terdengar alunanseruling, yang terdengar samar di antara debur ombak. “Aneh, siapa yang meniup seruling di tempat ini?” Kiran bertanya sambil merapikan daun yang digunakan s
  • 11

    Sep

    Eps 41. Para Penguntit

    SENJA mulai menyapa. Udara hangat membanjiri Trowulan. Sesekali angin berhembus, membuat daun- daun di pohon beringin yang banyak berada di sekeliling kota bergerak- gerak halus. Di Pawon Mantera Kata, Mbak Yu Tri membalik iwak wader di sebuah wajan terbuat dari gerabah. Wajan itu berisi wader pari, ikan kecil- kecil yang gurih. Mbak Yu Tri membiarkan ikan tersebut sebentar lagi dalam wajan tersebut untuk membuatnya lebih kering, lalu mengangkatnya. Sebelum ikan, tadi telah lebih dahulu digorengnya tempe. Kini tinggal menyiapkan sambal dan daun kemangi sebagai pelengkap wader dan tempe goreng tersebut. Diliriknya para tamu Pawon Mantera Kata. Dari dapurnya, memang ada sebuah jendela yang membuat Mbak Yu Tri dapat melihat para tamu. Dari situ, dia juga dapat dengan jelas melihat pintu u
  • 3

    Jul

    Eps 40. Maut Mengintip di Lapangan Bubat

    PENDEKAR Padi Emas melangkah menyusuri jalan berbatu di Trowulan. Seperti biasa, ibukota Kerajaan Majapahit ini ramai oleh lalulalang penduduknya. Sebagai kota terbesar di Jawadwipa, tak mengherankan jika Trowulan menjadi daya tarik utama, bukan hanya masyarakat biasa, namun juga berbagai tipe pedagang yang datang dari berbagai daerah. Kios gerabah yang dituju letaknya tidak jauh, dan Pendekar Padi Emas merasa tidak perlu terburu-buru. Dia mencoba menikmati setiap denyut yang terasa di kota ini. Dia menarik nafas dalam-dalam, mencoba merasakan aroma sebuah kota. Selalu menyenangkan bisa berada di kota, pikirnya. Dia terus melangkah, menikmati dan meresapi pemandangan. Hingga dia merasa ada sesuatu yang salah. Dia memperlambat langkahnya, mengamati. Sepintas, semuanya terlihat normal. Ta
  • 19

    Jun

    Eps 39. Utusan Para Pembawa Kegelapan

    GULITA malam memeluk ribuan pepohonan yang memenuhi hutan di bibir tebing yang berbatasan dengan sebuah samudera. Mohiyang Kalakuthana melangkah keluar dari pondok kayu yang terletak di hutan tersebut. Beberapa tombak di belakangnya, Kiran mengamati dengan waspada. Tangannya menggenggam selendang halus berwarna pelangi yang terikat di pinggangnya. Kiran melihat Mohiyang berjalan dengan kecekatan yang mengagumkan. Tak tampak sama sekali bahwa usianya sudah lanjut. Dia melangkah cepat, hampir tanpa suara. Menunjukkan ketinggian ilmu yang dimilikinya. Mohiyang telah meminta Kiran untuk membiarkannya mencari sumber suara dari luar pondoknya. Tapi tentu saja Kiran tak dapat membiarkan nenek tua itu melakukan hal tersebut sendirian. Segera setelah sosok Mohiyang tak lagi tertangkap oleh pand
  • 14

    Jun

    Eps 38. Airmata Dewa yang Murka

    MALAM datang seperti mimpi. Kegelapan menyelimuti persada, menghadirkan bayang-bayang mistis, seperti penari yang datang dari alam lain. Dhanapati dan Kaleena baru saja menyantap ayam hutan panggang. Ayam hutan itu ditangkap Dhanapati ketika dia mencari sumber air. Ayam hutan jantan yang lumayan besar. Dan ternyata rasanya gurih. Dagingnya lembut kendati terasa agak tawar. Kelihatannya akan hujan, kata Kaleena sambil menatap langit. Tak satupun bintang yang terlihat. Awan mendung pekat seperti cendawan raksasa yang menutupi cakrawala. Iya, ayo kita cari tempat untuk berteduh, kata Dhanapati. Di hutan seperti ini, sangat kecil kemungkinan untuk mendapatkan tempat berteduh. Namun Dhanapati berharap bisa menemukan kuil atau candi, atau setidaknya sebuah dangau sederhana. Namun alam rupany

Author

Follow Me