Eps 55. Ratu Racun yang Teracuni

23 Mar 2014

PERCIK sinar sang surya gemerlap menimpa dedaunan, ranting pohon, dan berkilau di atas samudera dengan airnya yang terus bergerak.

Bergulung, mengombak, dan memercikkan tetes air yang berkerlip.

Suara debur ombak terus terdengar, menemani langkah Kiran di dalam hutan yang berada di sebuah tebing tinggi di tepi laut.

Kiran berjalan tanpa suara. Dalam gendongannya ada seorang perempuan tua, Mohiyang Kalakuthana, yang terkenal sebagai si ratu racun di kalangan para pendekar. Keahliannya Mohiyang Kalakuthana meracik racun tak tertandingi selama berpuluh tahun terakhir.

Kiran terus melangkah, sampai dilihatnya sebuah pondok kayu di hadapannya.

Kiran mengamati sekitar untuk memastikan tak ada penyusup yang di tiba disana ketika dia meninggalkan pondok malam hari kemarin. Diperhatikannya pepohonan, ranting dan serakan kerikil di sekitar pondok.

Tak ada yang mencurigakan.

Didorongnya perlahan pintu pondok dan kembali, ditebarkannya pandangannya menyapu seisi pondok.

Aman.

Dibaringkannya perempuan tua yang sejak tadi digendongnya ke atas dipan bambu yang ada di dalam pondok. Dan Kiran mulai memeriksa keadaannya.

Mohiyang tidak sadar. Tapi dia hidup.

Kiran tahu, ada racun di dalam tubuh nenek tua itu. Racun kuat yang bahkan tak tertangkal oleh tubuh pemilik julukan si Ratu Racun itu.

***

Kiran teringat pada apa yang terjadi kemarin malam. Pertarungan sengitnya melawan sengit melawan Rakyan Wanengpati dan Durgandini.

Tadi malam, dalam pengintaiannya, Kiran menemukan kedua orang itu sedang berjalan di belakang Mohiyang Kalakuthana di tengah hutan, melangkah menuju pondok kayu dimana Kiran dan Mohiyang selama ini berada. Kiran mengamati mereka dan mendengar apa yang dikatakan Rakyan Wanengpati pada Mohiyang , dia segera tahu bahwa ada yang tidak beres. Mohoyang tidak menjadi dirinya sendiri. Dia dalam kendali di luar kesadarannya…

***

Kiran duduk bersila di bale bambu itu. Tepat di sisi Mohiyang Kalakuthana.

Dipejamkannya matanya. Ditariknya nafas panjang. Tangannya mulai bergerak dan cahaya berwarna perlangi tampak berpendaran di sekitarnya.

Kiran, tabib muda itu, mengobati Mohiyang Kalakuthana, si Ratu Racun yang menculik dirinya.

Cahaya pelangi terus berpendaran. Tangan Kiran bergerak cepat. Matanya terpejam, tapi mata batinnya dapat menemukan dimana bagian- bagian tubuh Mohiyang yang terkena racun paling parah.

Dan diantara gerakan tangan serta upayanya untuk mengobati Mohiyang Kalakuthana, Kiran melihat beberapa gambaran lain berkelebatan.

Dhanapati.

Ah, dia baik- baik saja rupanya, pikir Kiran. Gambar yang berkelebat di kepalanya tentang Dhanapati menampakkan suasana yang menimbulkan persaaan gembira. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Dimanapun dia berada saat ini, Dhanapati dalam keadaan selamat.

Lalu…

Putri Harum Hutan.

Kiran mengobati Putri Harum Hutan malam tadi setelah sebuah mimpi hadir.

Ada semak berwarna merah darah hadir dalam mimpinya tadi malam. Kiran melihat genangan darah, dan suara erangan lirih. Dalam mimpinya, Kiran melihat Putri Harum Hutan tergeletak di semak- semak dengan darah yang mengalir dari luka yang memanjang mulai dari bahu kiri melintas melintang hingga pinggang kanan.

Kiran mengobati Putri Harum Hutan dari jauh tadi malam dan apa yang dilihatnya saat ini menenangkan hatinya. Putri Harum Hutan akan sembuh, pikir Kiran. Entah dimana dia kini, tapi luka yang diobatinya tadi malam telah membaik.

Kiran kembali memusatkan pikirannya pada pengobatan Mohiyang Kalakuthana. Dia tahu pengobatan yang akan dilakukannya tak akan mudah, dan membutuhkan waktu. Jika si Ratu Racun bahkan tak bisa menangkal racun yang memasuki tubuhnya seperti ini, Kiran tahu bahwa jenis racun itu adalah racun yang sangat kuat.

Kiran mengoleskan sedikit madu di bibir Mohiyang Kalakuthana. Setelah itu, tangannya bergerak- gerak lagi. Cahaya berwarna pelangi kembali berpendaran….

1384666994232683922

Gambar: www.wallpaperhere.com

(bersambung)


TAGS cersil cerita silat majapahit gajah mada pelangi trowulan


-

Author

Follow Me