Eps 54. Keharuman di Pawon Manterakata

10 Nov 2013

* Posting ini dibuat oleh blogger tamu, Hes Hidayat

Panas seperti memanggang Trowulan.

MBAKYU Tri yang sedang berada di dapur merasa panas ini bukan sekedar pancaran sinar matahari di bulan kemarau.

Sembari menggoreng ikan dan menyeduh teh, ia memusatkan konsentrasinya. Beberapa saat ia bergidik. Ada apakah gerangan?

Seharian ini sepi sekali, mungkin para pelanggannya sedang menyambut iringan pengantin dari kerajaan Sunda Galuh, pikirnya.

Diliriknya ikan wader yang sudah dibumbui dalam keranjang. Woalah kalau tidak segera dimasak, ikan ini akan segera rusak dan harus dibuang, sayang sekali. Dimasukkannya segenggam ikan wader ke dalam penggorengan. Sambil menunggu ikan-ikan berukuran jari itu matang, ia menggerus sambal di cobek besar kesayangannya.

Sebentar lagi suaminya mungkin pulang. Tadi ia pamit untuk bertemu dengan teman-teman pendekar di kios gerabah mbah Wongso. Mbakyu Tri mulai menyiapkan makan siang untuk suaminya.

Tiba-tiba didengarnya derap langkah diluar. Orang-orang berlarian. Mbakyu Tri meninggalkan cobeknya dan berlari keluar.

“Ono opo toh?” Tanya mbakyu Tri ke seorang pemuda yang berjalan cepat membawa kayu bakar.

“Perang Mbakyu. Perang dengan Sunda Galuh! Baiknya Mbakyu masuk dan mengunci pintu! Cepat Mbakyu saya tunggu disini”

“Gustiii!” Mbakyu Tri berteriak sambil mengangkat tangannya. Lalu berlari masuk ke warungnya dan cepat mengunci pintu. Ia menutup jendela, dilambaikan tangannya ke pemuda itu yang kemudian berlari setelah memastikan MbakYu Tri aman.

Wajah Mbakyu Tri yang panik seketika berubah. Ia menegakkan tubuhnya dan menarik nafas. Tidak sembarang orang yang tahu kalau MbakYu Tri penjual nasi wader di Trowulan adalah seorang pendekar. Ia akhirnya paham hawa panas yang dirasakannya ternyata hawa pertempuran.

Ia membuka pintu depan warungnya dan mengamati keadaan. Orang-orang masih berlarian atau berjalan cepat. Tapi masih banyak juga orang yang berbelanja di kios-kios.

Mbakyu Tri menuju lapangan Bubat dengan langkah cepat. Sembari ditundukkannya pandangan. Ia melepas ajian numpak kabut, sebuah ajian yang membuatnya tidak diperhatikan orang-orang sekitarnya.

Ia terkejut bukan kepalang menyaksikan pertempuran di Lapangan Bubat. Tampak olehnya prajurit Sunda dibantai oleh prajurit Majapahit dengan jumlah yang tak seimbang.

“Gusstti…!” Kali ini MBakYu Tri berteriak dalam hati penuh amarah.

Tapi ia tahu ia tak bisa bertindak. Ia menghela nafas dan mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Air mata kepedihan dan kemarahan yang tertahan.

Ia hampir membalikkan badannya saat ia melihat Pendekar Padi Emas berjalan bersama seorang berpakaian prajurit Majapahit ke arah kios Mbah Wongso.

MbakYu Tri heran tapi tidak curiga. Siapa gerangan orang ini? Mengapa pendekar Padi Emas berjalan bersamanya?

Mbakyu Tri mengikuti. Saat Pendekar Padi Emas menghilang dibelakang kios, ia menunggu.

Beberapa saat Mbakyu Tri berdiri dibalik bayang-bayang sebuah pohon besar disamping kios jamu mengamati kios gerabah mbah Wongso. Berpikir tentang pertempuran yang terjadi dan amarah yang masih mendekam di dadanya.

Ia hampir tak memerhatikan dua orang yang keluar mengendap dari kios mbah Wongso. Seorang bercaping dan seorang berjubah besar. Mereka menjauh dan bergerak tak kentara di antara keriuhan pasar.

Tak berapa lama tiga orang pun keluar. Tak seperti dua orang sebelumnya, mereka mengobrol dan tampak santai menuju gerbang utama.

Mbakyu Tri mengusap dahinya, apa yang sedang terjadi? Apa yang mereka rencanakan? Siapa orang yang mereka lindungi?

Tiba-tiba warga berteriak menunjuk pada tiga orang yang bertengkar hebat dekat gerbang utama. Jurus-jurus membabi buta.

Mbakyu geleng-geleng kepala. Di mata orang awam jurus-jurus itu tampak nyata dan menyakitkan. Tapi dia tahu ketiga orang ini sedang bersandiwara. Dilihatnya Pendekat Misterius menarik orang berjubah itu keluar saat prajurit penjaga gerbang menengahi mereka yang sedang berkelahi.

Lalu salah satu dari mereka tiba-tiba loncat dan pergi. Mbakyu Tri melihat suaminya mengejar pendekar Gegurit Wungu diikuti oleh pendekar Padi Emas yang berteriak. Pendekar-pendekar gila, geleng mbakyu Tri.

Tiba-tiba ia ingat ikan wadernya di penggorengan. Lupa kalau sedang bersembunyi, ia berlari cepat ke arah Pawon Materakata. Dihentakkannnya pintu depan dan berlari ke dapur.

Asap dan wangi gosong ikan tidak memenuhi ruangan. Mbakyu Tri heran. Anehnya ada aroma harum yang belum pernah dikenalnya dari arah dapur. Sudah menduga walau tetap terkejut, di dapurnya mbakyu Tri mendapati seorang gadis cantik duduk bersila.

“Mbakyu, ikannya saya angkat. Khawatir gosong dan mohon maaf saya tadi menyeduh teh karena lelah sekali diperjalanan”.

Dilihatnya darah memenuhi baju indah gadis itu. Bahu kirinya terlihat terbebat seadanya dan tangan kanannya memegang pinggangnya yang tampaknya juga terluka.

“Putri Harum Hutan? …” Lirih Mbakyu Tri.

Gambar: calmthings.blogspot.com

Gambar: calmthings.blogspot.com

** Catatan: Hes Hidayat adalah pemilik blog bimbul, masukdapur dan manterakata


TAGS trowulan perang bubat gadjah mada majapahit putri harum hutan kerajaan sunda galuh


-

Author

Follow Me