Eps 52. Mahapatih Gajahmada

7 Apr 2013

13552827352134056037

Mahapatih Gajah Mada (foto: blogger.com)

Paseban Utama.

Yang Mulia Mahapatih Gajah Mada duduk dengan angkuh di satu-satunya kursi berukir yang ada di ruangan itu. Di depannya duduk bersila penuh hormat para senopati dan para pemimpin pasukan. Wajah para senopati terlihat lelah, sebagian nampak memucat menahan sakit. Namun di depan Sang Mahapatih, mereka berusaha tetap terlihat bersemangat.

“Kalian telah melakukan tugas dengan sempurna,” suara Sang Mahapatih terdengar bergemuruh. “Kalian berjasa besar pada kebesaran Wilwatikta. Apa yang kalian lakukan tadi akan dikenang anak cucu kita sampai ratusan tahun mendatang….”

Sang mahapatih menarik nafas. Perlahan mengusap wajahnya. “Akhirnya, walau dengan sedikit tipu muslihat, kita berhasil mencabut duri yang selama ini membuat Wilwatikta tidak tenang. Kita berhasil mencabut gangguan yang selama ini membuat Majapahit tidak nyaman. Kita berhasil menghabisi kekuatan utama Kerajaan Sunda Galuh.”

Mahapatih mengedarkan pandangannya, dan berujar lambat. kata demi kata. “Akhirnya, Jawadwipa benar-benar ada di bawah kekuasaan panji Wilwatikta Yang Agung…”

Mahapatih kembali mengusap wajahnya yang berpeluh. “Jadi, semua anggota pasukan Sunda Galuh tewas. Bukan begitu?”

Senopati Kebo Branjang melakukan gerakan menyembah dan menjawab,” Benar paduka. Semua pasukan Sunda Galuh tewas. Termasuk Mangkubumi Hyang Bunisora, Baginda Maharaja Lingga Bhuwana dan sang putri Dyah Pitaloka Citraresmi. Seluruhnya ada 134 jasad…”

Mahapatih mengangguk puas.

“Maaf, yang Mulia Mahapatih, ijinkan hamba bicara…” Yang bersuara adalah Senopati Gagak Nglukar. Melihat Mahapatih mengangguk, Senopati Gagak Nglukar menoleh ke Senopati Kebo Branjang. “Maaf, senopati, tadi Anda mengatakan ada 134 jasad?

Senopati Kebo Branjang mengangguk. “Betul, ada 134 jasad. Ada apa?” Melihat raut wajah Senopati Gagak Nglukar, entah kenapa hati Kebo Branjang merasa tidak enak. Gagak Nglukar adalaah senopati yang membawahi pasukan telik sandi, yang mengamati kedatangan pasukan Sunda Galuh sejak awal.

Gagak Nglukar terbatuk pelan. “Mmm… Begini. Beberapa saat setelah pasukan Sunda Galuh memasuki wilayah Wilwatikta, anggota telik sandi telah memberikan sejumlah informasi. Termasuk berapa jumlah mereka. Dan pasukan Sunda Galuh seluruhnya berjumlah 135 orang….”

Terdengar suara gemuruh tertahan dari para hadirin.

“Anda yakin pasukan telik sandi tidak salah hitung?” Kebo Branjang bertanya, sekalipun menyadari itu pertanyaan yang bodoh.

Gagak Nglukar tersenyum. “Pasukan telik sandi kita terlatih, senopati. Sangat terlatih. Mereka tak hanya mengamati dan menghitung jumlah pasukan Sunda Galuh. Mereka juga mengamati kekuatan lawan, seperti apa senjata yang dibawa, seberapa banyak perbekalan dan hal lainnya. Mereka juga bisa menghitung berapa lembar pakaian yang dibawa Putri Dyah Pitaloka Citraresmi. Jadi, informasi bahwa jumlah pasukan Sunda Galuh yang jumlahnya 135 itu akurat. Sangat akurat…”

“Tapi, jika jumlah pasukan Sunda Galuh berjumlah 135 orang, kenapa jumlah jasad hanya…’ Kebo Branjang tidak melanjutkan kalimatnya. Dia menatap Sang Mahapatih.

Sang mahapatih terlihat memejamkan mata. Wajah perkasa itu terlihat mengeras.

“Berarti ada satu prajurit Sunda Galuh lolos,” suara Mahapatih terdengar mendesis. Para Senopati merinding. Mereka tahu, jika mahapatih mendesis, itu artinya dia sedang murka. Sangat murka.

“Sekalipun ada prajurit yang lolos dari lapangan Bubat, dia tak akan bisa meninggalkan Trowulan. Semua gerbang dijaga ketat,” kata Senopati Trisuryo, yang berwewenang menangani penjagaan di pintu gerbang.

“Dan sejauh ini, tak ada tanda-tanda yang mencurigakan? Tak ada yang menerobos tanpa penjagaan?” Mahapath kembali bertanya.

“Sejauh ini tak ada tanda-tanda bahwa prajurit Sunda Galuh yang lolos itu berupaya keluar dari pintu gerbang, Yang Mulia. Secara umum tak ada kejadian berarti, kecuali insiden kecil yang melibatkan tiga pendekar. Tapi sejauh ini aman-aman saja paduka,” jawab Senopati Trisuryo.

“Maaf, Senopati Trisuryo, Anda mengatakan ada insiden yang melibatkan tiga pendekar? Siapa mereka?” Bhegawan Buriswara yang sejak tadi berdiam diri angkat bicara.

“Para prajurit mengenali tiga pendekar yang bertarung yakni Wolu Likur, Gegurit Wungu dan Pendekar Padi Emas. Keliatannya mereka mabuk. Perkelahian juga hanya berlangsung sebentar…”

“Hmmm….” Bhegawan Buriswara memicingkan matanya. Perlahan dia mengelus jenggotnya.

“Ada yang ingin kau sampaikan, Buriswara?” tanya Mahapatih.

“Ah, aku hanya merasa ada yang aneh, paduka. Tiga nama yang disebutkan tadi, merupakan pendekar dari golongan putih…”

“Lalu?”

“Kita semua tahu, pendekar golongan putih itu sangat menjunjung tinggi rasa setia kawan. Mereka juga mengutamakan kegagahan. Mereka rela mengorbankan nyawa demi keselamatan rekan-rekannya. Jadi, rasanya sedikit aneh jika mereka bertarung satu sama lain…”

“Mungkin mereka mabuk, Bhegawan…”

“Tidak, senopati Trisuryo. Memang banyak pendekar yang suka minum arak sampai mabuk. Namun tidak dengan ketiga pendekar itu. Mereka tak akan sudi merendahkan diri untuk mabuk-mabukan dan berkelahi di depan umum…”

“Jadi apa maksudmu, Buriswara?” Mahapatih bertanya tidak sabar

“Hamba hanya merasa ini sedikit aneh, paduka. Mereka pendekar golongan putih, dan selama ini dikenal sebagai sahabat dekat Pendekar Misterius. Jadi rasanya…”

“Pendekar Misterius? Oh iya. Para prajurit mengatakan, Pendekar Misterius sempat terlihat di pintu gerbang,” papar Senopati Trisuryo. “Namun setelah perkelahian berhenti Pendekar Misterius tak lagi terlihat. Mungkin dia menyelinap diam-diam. Tapi itu tidak masalah. Kita semua tahu bahwa Misterius bukan pendekar yang perlu diwaspadai bukan?”

“Informasi yang menarik, senopati,” kata Buriswara. “Apakah Pendekar Misterius berjalan sendiri? Atau bersama seseorang?”

“Mmmm… Kalau tidak salah ingat, para prajurit mengatakan dia bersama seseorang. Tapi tidak jelas siapa karena tak sempat diperiksa….”

Buriswara masih memicingkan matanya. Keningnya berkerut. “Hmmmmm…. Rasa-rasanya aku bisa menebak apa yang terjadi…”

“Apa yang terjadi, Buriswara? Jangan berteka-teki di sini…” Mahapatih menyela tidak sabar.

“Hamba rasa-rasanya bisa menebak kenapa ketiga pendekar itu berkelahi, yang Mulia. Mereka berkelahi bukan karena mabuk. Tapi semata demi mengalihkan perhatian…”

“Mengalihkan perhatian? Dari siapa dan untuk apa?”

“Mengalihkan perhatian penjaga, tentu saja. Supaya Pendekar Misterius bisa lolos tanpa pemeriksaan.”

“Tapi kenapa? Rasa-rasanya semua prajurit yang berjaga di Trowulan tahu kalau Pendekar Misterius tak perlu diperiksa jika hendak keluar atau menmasuki Trowulan bukan?”

“Betul. Pendekar Misterius tak perlu diperiksa. Tapi orang yang bersamanya. Hamba yakin, siapapun yang bersama Pendekar Misterius, dialah prajurit Sunda Galuh….”

“Ahhhh….” Terdengar seruan tertahan. Yang kemudian diikuti keheningan.

“Ka… Kalau begitu, kita kejar Pendekar Misterius. Dia pasti belum jauh. Kita cegat di lokasi yang kemungkinan dia lewati…” Senopati Trisuryo berujar penuh semangat. “Kenapa? Ada yang salah?” Trisuryo keheranan melihat rata-rata rekannya tersenyum. Bahkan Mahapatih Gajah Mada juga tersenyum.

“Kau terlalu lama berdiam di Trowulan, senopati, sehingga tidak mengetahui kondisi terkini dunia persilatan.” kata Mahapatih. “Yang akan kita kejar adalah Pendekar Misterius. Pen-de-kar Mis-te-ri-us. Jika dia melarikan diri atau bersembunyi, bahkan dewata sekalipun tak bisa menemukannya…”

“Tapi, Pendekar Misterius diduga bersama prajurit Sunda Galuh yang selamat. Jika mereka bisa sampai ke Sunda Galuh, rakyat Sunda akan mengetahui apa yang terjadi. Upaya kita di Lapangan Bubat tak akan sepenuhnya berhasil…”

Mahapatih mengelus hidungnya. Dan mendesah. “Kau benar, Senopati Trisuryo. Kau bentuk pasukan dan cobalah mencari jejak Pendekar Misterius. Aku tak yakin kau akan berhasil tapi semoga kau mendapat pertolongan Dewata Yang Agung…”

Senopati Trisuryo segera minta diri. Nyaris bersamaan dengan menghilangnya Trisuryo, terdengar bunyi gong yang mengalun pelan. Semua yang hadir terdiam. Termasuk Mahapatih.

“Yang Mulia Baginda Raja berkunjung!!” Terdengar suara teriakan nyaring. Semua senopati terkejut dan langsung merebahkan diri. Begitu juga dengan mahapatih, yang turun dari kursinya dan bersimpuh penuh hormat.

Beberapa saat sebelum bersimpuh, mahapatih sempat mengamati siapa yang datang. Yang berkunjung seorang anak muda yang sangat agung. Dia Baginda Maharaja Hayam Wuruk. Wajah Baginda muram. Matanya membayangkan kemarahan yang sangat besar.

Entah kenapa, Mahapatih Gajah Mada merasa tidak enak. Sesuatu yang besar akan terjadi, pikirnya. Entah apa….

(bersambung)


TAGS gajahmada perang bubat majapahit cerita silat cersil trowulan


-

Author

Follow Me