Eps 51. Tangan Bersedih Mengusir Setan

5 Jul 2012

SUDAH kubilang, ini bukan rencana yang bagus. Berusaha mengeluarkan prajurit Sunda Galuh dari Trowulan itu rencana gila, desis Pendekar Padi Emas. Bersama Gegurit Wungu dan Wolu Likur, Padi Emas melihat bagaimana ketatnya penjagaan di pintu gerbang utama.

Betul. Yang lebih gila adalah kita yang menyetujui rencana gila itu, timpal Gegurit Wungu sambil menatap sekeliling. Wajahnya nampak cemas.

Hmhh Banyak orang yang sebenarnya gila namun tidak menyadari kalau mereka gila Kali ini Wolu Likur yang bicara, entah ditujukan kepada siapa. Yang lebih parah adalah orang gila dan pengecut!!!

Gegurit Wungu berbalik dan menatap Wolu Likur. Kau mengatakan aku pengecut?

Wolu Likur balas menatap. Tatapannya tajam. Kau tidak merasa? Kau memang pengecut. Kau pengecut yang gila!!!

Gegurit Wungu menggeram. Jika tidak mengingat kau adalah teman Pendekar Misterius yang aku hormati, kau sudah kuhajar!!

Di luar dugaan Wolu Likur tersenyum. Dia berbalik menatap Pendekar Padi Emas. Benar kan? Sudah kubilang dia pengecut. Beraninya berlindung di balik nama besar orang lain!!!

Hmrrh Gegurit Wungu kembali menggeram. Kedua lengannya gemetar menahan marah. Pendekar Wolu Likur, kau keterlaluan!!!

Sudahlah, kita orang sendiri, sela Pendekar Padi Emas sambil memegang pundak Gegurit Wungu. Sebaiknya kita mencari cara membantu Pendekar Misterius agar bisa meninggalkan Trowulan tanpa diketahui

Kau tak perlu ikut campur, Pendekar Padi Emas, ujar Gegurit Wungu sambil mendorong bahu Padi Emas. Kau uruslah urusanmu sendiri!!!

Wajah Padi Emas berubah. Jika sekali lagi kau menyentuhku, kau mati!! Padi Emas mendesis.

Maksudmu mendorong seperti ini? Gegurit Wungu kembali mendorong pundak Padi Emas.

Wajah Padi Emas kini memerah. Matanya memicing. Gegurit Wungu!!! Aku Pendekar Padi Emas memohon pelajaran!!!

Blarrr.

Sebelum Padi Emas menyerang dia sudah terkena pukulan. Yang memukulnya bukan Gegurit Wungu. Tapi Wolu Likur. Pukulan Wolu Likur membuat Padi Emas terdorong mundur hingga lima langkah.

Si gila ini urusanku. Kau tak perlu ikut campur!!! Wolu Likur menatap Padi Emas. Kalimatnya belum selesai ketika dia mendengar angin pukulan. Datangnya dari Gegurit Wungu. Pukulan jarak dekat tak sempat ditangkis. Kali ini Wolu Likur yang terdorong.

Keparat kau Gegurit Wungu, terimalah seranganku!!! Wolu Likur memasang kuda-kuda, dan dengan cepat dia menyerang. Serangannya ganas. Kedua lengan diayunkan setengah putaran, diikuti tendangan melingkar. Itulah jurus Hanggakara Limengan Malalit ( Kekuatan Pusaran Kecil). Serangannya menimbulkan energi berputar yang membuat debu ikut berputar.

Gegurit Wungu mendengus. Melihat serangan Wolu Likur dia melangkah ke samping. Namun di saat bersamaan dia mendengar datangnya angin serangan. Dari Pendekar Padi Emas. Serangan Padi Emas sangat dahsyat, berisi tenaga sakti tingkat tinggi. Kedua lengan Padi Emas membuat gerakan seperti menebas, disusul gerakan menyilang, sesuai jurus Sikara Raras Barasat Banas (Tangan Bersedih Mengusir Setan).

Gegurit Wungu mengenal serangan hebat. Dia cepat-cepat melompat tinggi dan berjumpalitan. Serangan Padi Emas luput. Namun Pendekar dari Swarnabhumi itu tidak berhenti. Pendekar Padi Emas kini menyerang Wolu Likur!!!

Plakkk Desss!!! Wolu Likur yang tak menyangka akan diserang tak mampu mengelak. Pinggangnya terkena sabetan. Dia terlempar seperti daun kering dan menghantam sebuah kios yang menjual gerabah. Lima gerabah langsung hancur.

Padi Emas yang merasa girang melihat serangannya mengena tiba-tiba merasa kepalanya dingin. Ternyata Gegurit Wungu yang tadi melompat dan berjumpalitan kini menyerangnya. Bagai burung garuda yang terjun dari langit, Gegurit Wungu menukik. Jemarinya berbentuk cakar, sesuai ajian Bayu Kanaka Lumadhang Hupalasan (Angin Emas Pembuka Jalan).

Padi Emas tentu tidak sudi ubun-ubunnya terkena cakaran. Dia mengelak ke samping. Namun gerakannya kalah cepat. Secara tak terduga Gegurit Wungu melenting dan menendang.

Plaakkk!!! Dada Padi Emas terkena tendangan. Sama seperti Wolu Likur, dia juga terlempar dan mendarat di sebuah kios yang menjajakan burung perkutut. Dua sangkar perkutut hancur terkena tubuh Padi Emas. Beruntung burung dalam sangkar itu selamat.

Gegurit Wungu yang masih melenting setelah melakukan tendangan tiba-tiba merasa punggungnya sakit bukan kepalang. Dia ternyata diserang Wolu Likur!!!

Terjadilah pertarungan segitiga yang aneh dan kacau balau antara Padi Emas, Gegurit Wungu dan Wolu Likur. Mereka saling serang. Saling tangkis. Masing-masing menganggap kedua lawan adalah musuh.

***

Ketiga pendekar ini merupakan jagoan kelas satu. Ilmu kanuragan mereka tinggi. Apalagi mereka bertarung dengan tenaga sakti. Kios yang ada di sekitar mereka hancur lebur.

Suasana segera berubah menjadi kacau balau. Penduduk berteriak riuh rendah. Perempuan menjerit. Yang lain berteriak memanggil petugas keamanan.

Pertarungan mereka berlangsung tak jauh dari pintu gerbang utama.

Astaga pendekar, bukankah yang berkelahi itu teman-teman pendekar? Kayan berbisik tak mengerti.

Pendekar Misterius mengamati, dan mengangguk. Dan kemudian menggelengkan kepala. Mereka memang gila!!!

Perkelahian segi tiga makin seru. Prajurit yang berjaga di pintu gerbang tersita perhatiannya. Hal ini tak luput dari pandangan mata Pendekar Misterius, yang perlahan menarik lengan Kayan mendekati pintu gerbang.

Blaaarrr!!! Adu tenaga sakti yang dilontarkan Padi Emas dan Wolu Likur menimbulkan suara menggelegar dan memercikkan api. Prajurit yang berjaga ikut berteriak, meminta agar pertarungan dihentikan.

Dan saat itulah Pendekar Misterius melihat celah. Peluang. Dengan cepat dia menarik Kayan melewati pintu gerbang yang tak terjaga. Begitu berada di balik gerbang Pendekar Misterius segera berkelebat. Dan menghilang.

***

Pendekar Padi Emas meraba bibirnya. Darah. Pendekar Wolu Likur memang hebat. Adu tenaga tadi membuat organ tubuhnya terguncang. Dia melirik sekilas. Pendekar Misterius tak ada. Juga Kayan.

Pendekar Padi Emas menyilangkan kedua lengan di depan dada. Gegurit Wungu, Wolu Likur. Bersiaplah. Terimalah jurusku yang terakhir, jurus Burung Kayangan Meninggalkan Kota Dia kemudian merentangkan kedua lengan. Dan menyerbu.

Sumber gambar: Komik Long Hu Men

Sumber gambar: Komik Long Hu Men

Wolu Likur dan Gegurit Wungu menyambut serangan. Dan menapaki dengan tak kalah ganas.

Aku bilang, jurusku adalah Burung Kayangan Meninggalkan Kota!!! Padi Emas kembali berteriak.

Wolu Likur dan Gegurit Wungu tersentak. seperti diingatkan pada sesuatu. Nyaris serempak mereka menatap pintu gerbang. Pendekar Misterius dan Kayan tak terlihat. Ah. Padi Emas benar. Burung Kayangan telah meninggalkan kota. Pendekar Misterius dan Kayan berhasil meninggalkan Kota Trowulan!!!

Aku selesai. Aku tunggu kalian di utara Trowulan, bentak Gegurit Wungu sambil melompat tinggi. Dia menapaki bubungan rumah dan kemudian berkelebat.

Pengecut kau. Jangan lari!!! Wolu Likur berteriak mengejar. Diikuti Pendekar Padi Emas.

***

Perkelahian seru antara tiga pendekar itu menjadi perbincangan masyarakat Trowulan hingga menjelang malam. Tak ada yang menduga jika beberapa saat kemudian, ketiga pendekar itu sudah berada di gubuk kecil di luar Trowulan.

Di gubuk itu, ketiga pendekar yang baru saja saling hantam ini bicara dengan penuh keakraban. Mendiskusikan dan mengagumi sandiwara yang baru saja mereka peragakan di depan banyak orang!!! (bersambung)

** Sumber gambar: Komik Long Hu Men **


TAGS trowulan majapahit perang cerita silat cersil perang bubat pendekar


-

Author

Follow Me