Eps 50. Bisikan Jiwa

24 Jun 2012

Gambar: risingnow.wordpress.com

Gambar: risingnow.wordpress.com

SUNYI melingkupi malam. Hanya gerisik daun dan suara ombak berdebur yang terdengar.

Mohiyang Kalakuthana melangkahkan kakinya menuju tepi hutan. Kepekaannya yang terlatih membuat dia dapat menduga darimana sumber suara seruling yang didengarnya tadi berasal.

Sementara itu, Rakyan Wanengpati dan Durgandini terus berjalan memasuki hutan dengan tujuan untuk menemui Mohiyang Kalakuthana dan meminta agar Kiran diserahkan pada mereka sehingga mereka dapat membawa gadis itu kehadapan Ketua Muda.

Rakyan Wanengpati meraba ikat pinggangnya, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari situ. Durgadhini memperhatikan bagaimana Rakyan Wanengpati memeriksa bungkusan itu dengan seksama.

Apa itu? tanya Durgandini pada Rakyan Wanengpati, Bubuk Paraga Gayuh Tresna?

Raka Wanengpati menggeleng.

Tidak, bubuk dalam bungkusan kecil itu bukan Paraga Gayuh Tresna (Serbuk Perangsang Asmara). Bubuj ini adalah racun jenis lain.

Ini racun Susmana Halayang ( Jiwa Melayang ) namanya, kata Rakyan Wanengpati.

Rakyang Wanengpati menelaskan pada Durgandini bahwa racun yang baru saja diperiksanya itu tidak merangsang birahi tetapi membuat orang yang terkena racun menjadi kehilangan kehendaknya sendiri dan menuruti apapun yang diperintahkan oleh sang penebar racun, tanpa kecuali. Ini adalah racun sangat keras yang ramuannya hanya diketahui oleh beberapa ahli racun tertentu saja. Racun ini dinamakan Susmana Halayang sebab jiwa- jiwa siapapun yang terkena racun ini sudah tak lagi dapat dikendalikan oleh sang pemilik raga karena dia akan dikendalikan oleh pemilik dan penebar racun itu.

***

Di sisi lain hutan itu, Kiran dalam keadaan baru terbangun masih terus melihat gambar Putri Harum Hutan yang tergeletak dengan luka panjang dan menyilang berkelebatan dalam angannya.

Kiran dengan segera memahami. Putri Harum Hutan membutuhkan pertolongannya. Kiran duduk bersila, menarik nafas sejenak lalu memjamkan mata. Tangannya bergerak- gerak. Dia memulai pengobatan jarak jauh bagi sang putri.

Sementara melakukan pengobatan pagi Putri Harum Hutan, Kiran juga mengamati keadaan di sekitar. Dia merasakan satu hal, Mohiyang Kalakuthana, nenek Ratu Racun itu, tak berada di sekitar pondok.

Kiran memusatkan pikiran dan batinnya, mencoba mencari dimana sang nenek berada. Dan dalam pikirannya, tampak suatu titik cahaya. Kiran tahu, titik itu menunjukkan dimana Mohiyang yang dicarinya berada. Dia dapat memperkirakan bahwa Mohiyang sedang mengarah ke tepi hutan.

Untuk apa Mohiyang pergi kesana, pikir Kiran. Hendak kemana dia?

Kiran memusatkan lagi pikirannya pada Putri Harum Hutan yang sedang diobatinya. Dipantaunya kedaan putri itu. Dia menggerak- gerakkan kembali tangannya untuk beberapa waktu dan kemudian berhenti.

Cukup untuk saat ini, pikirnya. Kini biarlah dulu pengobatan yang baru saja dilakukannya memperbaiki kondisi sang puteri. Besok akan dilanjutkannya pengobatan itu.

Sekarang

Kiran merapikan ikatan selendang berwarna pelangi di pinggangnya. Dia bergerak turun dari bale-bale dimana dia tadi berada dan beranjak menuju pintu.

Niatnya pasti. Dia akan menyusul Mohiyang Kalakuthana. Perasaannya mengatakan pada Kiran bahwa nenek tua itu akan membutuhkan bantuannya

( bersambung )

** gambar dari: risingnow.wordpress.com **


TAGS trowulan majapahit cerita silat cersil


-

Author

Follow Me