• 10

    May

    Eps 57. Getah Beracun

    GULITA memeluk malam. Suara ombak laut terhempas tebing terdengar berulang. Ditingkahi suara serangga- serangga dan burung malam. Ada suara burung hantu jelas terdengar. Juga burung lain entah apa yang bercericit. Angin bertiup kencang malam itu. Membuat ranting bergerak- gerak dan dedaunan berdesir menari. Di tengah hutan, di suatu tempat yang lapang terbuka, dua orang pendekar sedang berlaga. Kiran, sang tabib muda, melawan Mohiyang Kalakuthana, seorang nenek yang diantara para pendekar terkenal dengan julukan si Ratu Racun. Kemampuannya membuat dan menawarkan racun tekenal bukan hanya di Jawadwipa, tapi juga di pulau- pulau dan kerajaan- kerajaan yang jauh. Ratu Racun itu kini sedang berlaga melawan Kiran untuk membebaskan diri dari racun Suksma Halayang yang masuk ke tubuhnya. Suksma
  • 10

    May

    Eps 56. Mengobati Racun Jiwa

    SANG SURYA bergerak ke arah Barat. Gerisik dedaunan dan debur ombak terdengar meningkahi senja. Kiran duduk di samping sebuah bale- bale di dalam pondok kecil di tengah hutan. Di atas bale- bale itu terbaring seorang nenek tua, Mohiyang Kalakuthana yang diantara para pendekar terkenal dengan julukan si Ratu Racun. Ratu Racun yang — Kiran menghela nafas — kini terbaring di situ sebab terkena racun kuat bernama Susmana Halayang, atau Jiwa Melayang. Racun itu sangat kuat dan hanya beberapa orang saja yang dapat membuat dan menangkalnya. Mohiyang Kalakuthana akan dapat menangkal racun itu seandainya saja dia memakan anti racun buatannya sendiri sebelumnya. Tapi itu tidak dilakukannya hari itu, walau dia memberi Kiran anti racun tersebut untuk berjaga- jaga. Racun dalam kadar norma
  • 23

    Mar

    Eps 55. Ratu Racun yang Teracuni

    PERCIK sinar sang surya gemerlap menimpa dedaunan, ranting pohon, dan berkilau di atas samudera dengan airnya yang terus bergerak. Bergulung, mengombak, dan memercikkan tetes air yang berkerlip. Suara debur ombak terus terdengar, menemani langkah Kiran di dalam hutan yang berada di sebuah tebing tinggi di tepi laut. Kiran berjalan tanpa suara. Dalam gendongannya ada seorang perempuan tua, Mohiyang Kalakuthana, yang terkenal sebagai si ratu racun di kalangan para pendekar. Keahliannya Mohiyang Kalakuthana meracik racun tak tertandingi selama berpuluh tahun terakhir. Kiran terus melangkah, sampai dilihatnya sebuah pondok kayu di hadapannya. Kiran mengamati sekitar untuk memastikan tak ada penyusup yang di tiba disana ketika dia meninggalkan pondok malam hari kemarin. Diperhatikannya pepohon
  • 10

    Nov

    Eps 54. Keharuman di Pawon Manterakata

    * Posting ini dibuat oleh blogger tamu, Hes Hidayat Panas seperti memanggang Trowulan. MBAKYU Tri yang sedang berada di dapur merasa panas ini bukan sekedar pancaran sinar matahari di bulan kemarau. Sembari menggoreng ikan dan menyeduh teh, ia memusatkan konsentrasinya. Beberapa saat ia bergidik. Ada apakah gerangan? Seharian ini sepi sekali, mungkin para pelanggannya sedang menyambut iringan pengantin dari kerajaan Sunda Galuh, pikirnya. Diliriknya ikan wader yang sudah dibumbui dalam keranjang. Woalah kalau tidak segera dimasak, ikan ini akan segera rusak dan harus dibuang, sayang sekali. Dimasukkannya segenggam ikan wader ke dalam penggorengan. Sambil menunggu ikan-ikan berukuran jari itu matang, ia menggerus sambal di cobek besar kesayangannya. Sebentar lagi suaminya mungkin pulang.
  • 7

    Apr

    Eps 53. Raga yang Terbuka

    DINI hari di sebuah hutan. Dhanapati membuka matanya. Mentari belum lagi menampakkan diri. Hari masih gelap saat itu. Tanah terasa agak basah karena embun pagi. Kabut dimana- mana. Perlahan, berusaha tak menimbulkan suara, Dhanapati bangkit berdiri. Dia tak ingin membangunkan Kaleena yang masih terelap tak jauh dari situ. Dia pasti lelah sekali. Kemarin mereka berjalan jauh menembus hujan lebat dan kilat yang sambar menyambar. Dhanapati berniat mencari tanaman atau buah- buahan yang dapat dimakan. Dia berjalan beberapa saat hingga akhirnya ditemukannya sekelompok pohon pisang yang sedang berbuah lebat. Diambilnya sesisir saja dari begitu banyak pisang di tandan. Cukup sudah un
  • 7

    Apr

    Eps 52. Mahapatih Gajahmada

    Mahapatih Gajah Mada (foto: blogger.com) Paseban Utama. Yang Mulia Mahapatih Gajah Mada duduk dengan angkuh di satu-satunya kursi berukir yang ada di ruangan itu. Di depannya duduk bersila penuh hormat para senopati dan para pemimpin pasukan. Wajah para senopati terlihat lelah, sebagian nampak memucat menahan sakit. Namun di depan Sang Mahapatih, mereka berusaha tetap terlihat bersemangat. “Kalian telah melakukan tugas dengan sempurna,” suara Sang Mahapatih terdengar bergemuruh. “Kalian berjasa besar pada kebesaran Wilwatikta. Apa yang kalian lakukan tadi akan dikenang anak cucu kita s...
  • 5

    Jul

    Eps 51. Tangan Bersedih Mengusir Setan

    SUDAH kubilang, ini bukan rencana yang bagus. Berusaha mengeluarkan prajurit Sunda Galuh dari Trowulan itu rencana gila, desis Pendekar Padi Emas. Bersama Gegurit Wungu dan Wolu Likur, Padi Emas melihat bagaimana ketatnya penjagaan di pintu gerbang utama. Betul. Yang lebih gila adalah kita yang menyetujui rencana gila itu, timpal Gegurit Wungu sambil menatap sekeliling. Wajahnya nampak cemas. Hmhh Banyak orang yang sebenarnya gila namun tidak menyadari kalau mereka gila Kali ini Wolu Likur yang bicara, entah ditujukan kepada siapa. Yang lebih parah adalah orang gila dan pengecut!!! Gegurit Wungu berbalik dan menatap Wolu Likur. Kau mengatakan aku pengecut? Wolu Likur balas menatap. Tatapannya tajam. Kau tidak merasa? Kau memang pengecut. Kau pengecut yang gila!!! Gegurit Wungu menggeram.
  • 24

    Jun

    Eps 50. Bisikan Jiwa

    Gambar: risingnow.wordpress.com SUNYI melingkupi malam. Hanya gerisik daun dan suara ombak berdebur yang terdengar. Mohiyang Kalakuthana melangkahkan kakinya menuju tepi hutan. Kepekaannya yang terlatih membuat dia dapat menduga darimana sumber suara seruling yang didengarnya tadi berasal. Sementara itu, Rakyan Wanengpati dan Durgandini terus berjalan memasuki hutan dengan tujuan untuk menemui Mohiyang Kalakuthana dan meminta agar Kiran diserahkan pada mereka sehingga mereka dapat...
  • 4

    Jun

    Eps 49. Semak Merah Darah

    RAKYAN Wanengpati mengusap serulingnya dengan hati- hati. Diamatinya sejenak seruling yang baru saja ditiupnya itu, lalu diselipkannya ke ikat pinggang yang terbuat dari kain. Durgadhini yang berjalan disampingnya memperhatikan Rakyan Wanengpati. Untuk apa kau tiup seruling itu? tanya Durgadhini padanya, Kurasa hanya ada dua perempuan lain selain aku di sekitar sini, yang satu nenek- nenek, yang satu gadis cantik, tapi aku yakin kau tak akan dapat melakukan hal yang biasa kau lakukan pada salah satu dari mereka. Rakyan Wanengpati menyeringai lebar. Ah, katanya, Sekali- sekali ilmu Buluh Perindu Penggoda Sukma ini bisa juga digunakan untuk tujuan lain selain untuk memetik bunga- bunga segar, katanya tertawa. Durgadhini tak menjawab. Rakyan Wanengpati mata keranjang. Julukannya Dewa
  • 22

    May

    Eps 48: Menerobos Kepungan Majapahit

    TROWULAN yang riuh semakin gaduh. Gema pertempuran yang terjadi di lapangan Bubat akhirnya melebar. Warga berbondong-bondong menuju Bubat, ingin melihat dari dekat apa yang terjadi. Prajurit Majapahit berjaga-jaga di sudut-sudut strategis. Di kios gerabah milik Mbah Wongso, para pendekar berdiskusi serius. Kita berpacu dengan waktu, bisik Pendekar Misterius. Mahapatih Gajah Mada dan Bhegawan Buriswara adalah orang yang cermat. Mereka tak akan melakukan kesalahan. Aku yakin, sebentar lagi semua pintu gerbang akan dijaga ketat Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo, kita kawal saudara Kayan meninggalkan Trowulan, ujar Pendekar Padi Emas. Pendekar Misterius menggeleng. Sedapat mungkin, kita jangan menarik perhatian. Jika kita semua menemani saudara Kayan, itu terlalu menyolok. Biar aku saja yang
- Next

Author

Follow Me