Apr 14 2012

Eps 47. Hujan Batu dan Api di Padang Tak Bertepi

DHANAPATI melangkahkan kakinya, melompati akar- akar pohon besar. Menyingkirkan ranting- ranting yang menghalang.

Mereka ada di dalam hutan yang lebat sekarang.

Monyet- monyet berlompatan dari satu dahan ke dahan lain. Beberapa turun ke tanah.

Dhanapati menyingkirkan dua ekor lintah yang menempel di kakinya. Di sampingnya, Kaleena memperhatikan dengan muka yang menampakkan rasa antara geli dan ngeri.

Dhanapati tersenyum. Dia menghapus bekas darah yang keluar dari bagian dimana lintah tadi menggigit. Setelah itu, seakan tak ada apapun yang terjadi, dia melangkahkan kakinya lagi. Kaleena mengikuti di belakangnya.

Belum lama mereka melangkah, terdengar jeritan Kaleena.

Continue reading


Apr 1 2012

Eps 46. Mencari Jalan Keluar

HIRUK pikuk suara pedagang dan pembeli dan pertukaran barang serta uang terus terjadi di pasar kota Trowulan.

Begitu pula di kios gerabah milik Mbah Wongso.

Setelah anak kecil yang diantar orang tuanya untuk membeli celengan, datang pembeli lain, seorang ibu yang hendak membeli kendi untuk wadah air minum. Lalu pembeli lain lagi, yang membutuhkan mangkuk.

Di kios sebelah, pedagang batik menggelar beberapa helai kain, menunjukkan motif- motif yang berbeda pada calon pembelinya yang memegang dan meneliti kain- kain itu.

Suara ringkik kuda yang menanti sang pemilik yang sedang berbelanja sesekali terdengar pula dari arah jalan, meningkahi semua hiruk pikuk itu.

Berbeda dengan keriuhan di luar, di dalam sebuah kamar yang terhubung dengan pintu dari kios gerabah milik mbah Wongso, suasana senyap yang terasa.

Kedatangan Pendekar Padi Emas dengan seorang prajurit dari Kerajaan Sunda Galuh yang diluar rencana membuat beberapa pendekar yang ada di dalam ruangan itu harus memikirkan apa tindakan yang harus mereka ambil.

Mereka semua mulanya ada di sana untuk mengatur rencana pencarian Kiran, sang tabib muda yang diculik serta melacak keberadaan Putri Harum Hutan yang tergabung dalam kelompok Para Pelindung yang Tersumpah . Pendekar Gegurit Wungu telah diputuskan untuk berangkat mencari Kiran. Dan kini tiba- tiba Pendekar Padi Emas datang dengan seorang prajurit Kerajaan Sunda Galuh yang saat itu sedang berperang dengan prajurit Kerajaan Majapahit.

Pendekar Padi Emas berdiri di muka pintu, sementara prajurit Sunda Galuh yang bernama Kayan berdiri di belakangnya. Dengan tatapan dingin menusuk Pendekar Padi Emas memperhatikan ketiga pendekar lain yang ada di dalam ruangan itu.

Sang pendekar tampan Gegurit Wungu menimbang- nimbang. Pendekar Wolu Likur tampak berpikir keras. Tindakan Pendekar Padi Emas yang membantu Prajurit Sunda Galuh ini sungguh tindakan berbahaya. Itu tindakan yang bisa membuat mereka semua menjadi musuh kerajaan.

Pendekar Misterius, yang juga ada di dalam ruangan tersebut juga belum bersuara. Wajah ramahnya tampak tetap tenang dan seperti biasa dia berusaha membuat suasana tegang menjadi cair. Alih- alih langsung menjawab Pendekar Padi Emas, dia memilih untuk menoleh pada prajurit dari kerajaan Sunda Galuh itu.

Mangga calik, “ katanya pada Kayan, mempersilahkan prajurit tersebut untuk duduk.

Kayan tampak terkejut sejenak, lalu senyum lebarnya terkembang. Disapa dengan bahasa daerahnya dalam situasi seperti yang sedang dihadapinya merupakan suatu kejutan yang menyenangkan.

Hatur nuhun, “ jawab Kayan, seraya mengangguk saat menyampaikan ucapan terimakasihnya itu. Kalimat itu dilanjutkannya dengan, “ Geuningan tiasa nyarios basa Sunda?

Tak seorangpun dari semua pendekar yang ada di ruangan tersebut mengerti apa yang dikatakan Kayan. Begitu pula Pendekar Misterius yang lalu tertawa mengatakan pada Kayan bahwa dia tak memahami apa yang dikatakan prajurit tersebut sebab sebenarnya dia tak bisa berbahasa Sunda kecuali beberapa kata- kata pendek saja serupa “mangga calik” yang tadi diucapkannya.

Kayan mengangguk maklum. Pendekar lain di ruangan itu mulai tersenyum. Suasana tegang yang tadi terasa mulai mencair…

***

Kiran terkejut.

Ada air yang datang tiba- tiba entah darimana. Air berwarna kecoklatan itu terus meninggi dan kini mencapai mata kakinya.

Banjir !
Continue reading


Feb 1 2012

Eps 45. Menjadi Musuh Kerajaan Majapahit?

Perang Bubat. Gambar: transbonja.deviantart.com

PADI Emas adalah pendekar berpengalaman. Dan bermata tajam. Dari sekian banyak adegan pertempuran yang tersaji di depan mata, dia melihat sesuatu yang tidak biasa.

Ada tiga lelaki dari Sunda Galuh yang mengeroyok seorang prajurit Majapahit. Perkelahian mereka sengit. Seru. Namun mata Padi Emas yang tajam tak bisa dibohongi. Perkelahian yang terlihat seru itu jelas sekali hanya sandiwara!!!

Dengan penuh perhatian dia mengamati perkelahian itu. Si prajurit Majapahit terdesak hingga ke tepi lapangan. Dan suatu ketika, dia terjatuh. Para pengeroyok mengerubungi. Salah seorang di antaranya dengan cepat mengangkat si prajurit Majapahit dan melemparkan ke luar lapangan.

Prajurit Majapahit itu jatuh bergelimpangan. Dia menatap sejenak ke arah lelaki yang melemparkannya, mengangguk nyaris tak kentara, dan menghilang di tangah kerumunan masyarakat yang memadati tepi Lapangan Bubat.

Semua kejadian itu disaksikan oleh Padi Emas. Yang langsung curiga.

Kenapa ada prajurit Sunda Galuh dan Majapahit yang pura-pura bertarung? Dan kenapa prajurit Majapahit itu tiba-tiba keluar dari areal pertarungan?

Padi Emas membuntuti prajurit Majapahit itu. Dan dalam sekejap, ketika melihat si prajurit Majapahit itu seperti kebingungan, seperti tak tahu harus kemana, pendekar yang berpengalaman itu bisa memahami apa yang terjadi.

Tanpa menyolok dia mendekati si prajurit.

“Ada yang bisa saya bantu?” Padi Emas berbisik.

Si prajurit terlonjak kaget. Wajahnya pucat pasi. Jelas sekali dia ketakutan dan kebingungan. Matanya liar menatap sekeliling.

“Ah… eh… ti… tidak…” si prajurit tergagap.

“Kisanak tak perlu berpura-pura. Aku tahu kalau kisanak adalah prajurit Sunda Galuh yang menyamar bukan?” Padi Emas berbisik sambil memegang lengan si prajurit.

Si prajurit terbelalak. Wajahnya ketakutan seperti melihat hantu.

“Kau tak perlu takut,” bisik Padi Emas. “Aku akan membantumu. Ikut aku…”

Padi Emas bukanlah pendekar yang suka ikut campur urusan orang. Dia sendiri tidak tahu dorongan dari mana yang membuatnya spontan ingin membantu prajurit itu. Mungkin karena dia trenyuh melihat pembantaian di depan mata dan tidak bisa berbuat apa-apa?

Seperti yang diduga, prajurit itu memang menyamar. Namanya Kayan, dan ditugaskan khusus untuk melarikan diri. Baginda Maharaja Lingga Bhuwana sadar kalau kepungan Majapahit yang sangat rapat tak mungkin diterobos. Namun biar bagaimanapun, harus ada prajurit Sunda Galuh yang lolos. Untuk memberitahu kepada masyarakat Sunda Galuh apa yang terjadi di Lapangan Bubat.

Baginda menugaskan beberapa prajurit untuk berpura-pura. Kayan pun mengenakan sarung yang morifnya mirip dengan yang dikenakan prajurit Majapahit.

Aksi pura-pura mereka berlangsung mulus. Hingga ke tepi lapangan tak ada yang curiga. Kayan pun berhasil lolos. Namun sebagai penduduk Sunda Galuh yang belum pernah ke Trowulan, dalam sekejap dia bingung. Tak tahu arah mana untuk keluar.

Dan muncullan Padi Emas yang mengatakan siap membantu.

Kayan terpaksa menurut. Dalam keadaan bingung, dia tak punya pilihan. Dia menyerahkan nyawanya kepada Padi Emas. Dia tahu, jika si lelaki ini berniat jahat, pasti sudah sejak awal dia membuka rahasia.

Padi Emas membawa Kayan ke kios yang akan dijadikan pertemuan dengan beberapa penbdekar.

“Jadi begitulah,” cerita Padi Emas kepada Pendekar Misterius, Wolu Likur dan Gegurit Wungu. “Aku tak punya pilihan lain. Aku harus membantu lelaki ini kembali ke Sunda Galuh. Semoga teman-teman pendekar bisa memahami…”

Ketiga pendekar terdiam. Saling pandang.

“Saudara Padi Emas, semoga kau sadar apa yang barusan kau lakukan. Kau baru saja membantu musuh kerajaan. Artinya, sejak kini kau menjadi musuh kerajaan Majapahit!!” kata Gegurit Wungu.

“Dan jika kami membantumu, otomatis kami juga menjadi musuh kerajaan,” tambah Wolu Likur.

“Aku tentu sadar apa resikonya,” kata Padi Emas. “Aku hanya tidak menyangka kalau saudara pendekar ketakutan menjadi musuh kerajaan….” Padi Emas berkata dingin. (Bersambung)

** Gambar: transbonja.deviantart.com **


Jan 19 2012

Eps 44. Garuda Nglayang di Lapangan Bubat

garuda

NYARIS serempak, Pendekar Misterius, Wolu Likur dan Gegurit Wungu berdiri. Mereka sudah tahu kalau Pendekar Padi Emas akan muncul.

“Mari silakan,” kata Wolu Likur. “Eh ada yang tidak beres?” Wolu Likur bertanya heran melihat raut wajah Padi Emas.

“Eh, iya. Sebenarnya… aku…” Padi Emas berkata setengah gagap.

“Katakan saja, saudaraku. Kita orang sendiri,” kata Pendekar Misterius.

“Emm… Sebenarnya ini bukan tentang aku. Tapi seseorang yang nyawanya terancam,” ujar Padi Emas. Dia melongok sejenak ke luar dan menggapai. Beberapa saat kemudian seorang lelaki yang wajahnya letih muncul. Lelaki itu pucat. Lengan dan kakinya berdarah, juga pundak. Lukanya sudah dibebat seadanya.

“Kenalkan, ini Kayan, prajurit Sunda Galuh,” Padi Emas berujar sambil mengerahkan ilmu mengirimkan suara. Kata-katanya hanya bisa didengar oleh ketiga pendekar di depannya. “Mungkin Kayan satu-satunya prajurit Sunda Galuh yang lolos dari pembantaian di Lapangan Bubat…”

“Ahhhh…” Pendekar Misterius berseru kaget, seperti disengat ular berbisa. Begitu juga Wolu Likur dan Gegurit Wungu. Tentu saja mereka mendengar kabar kedatangan rombongan penganten dari Sunda Galuh, putri mahkota Sunda galuh yang kabarnya bakal disunting Yang Mulia Baginda Raja Majapahit. Namun ketiganya tidak begitu tertarik soal jodoh, karena perhatian mereka dicurahkan untuk mencari Kiran.

“Apa yang terjadi?” bisik Gegurit Wungu sambil menatap sekeliling. Sesuatu yang tidak perlu sebenarnya karena di bilik itu hanya ada mereka.

Pendekar Padi Emas menarik nafas panjang. Wajahnya keruh. “Pembantaian. Nyawa melayang hanya karena keinginan menguasai wilayah. Dan jodoh serta perkawinan dijadikan sebagai alat…”

“Duduk dulu, Padi Emas. Ceritamu pasti panjang,” kata Wolu Likur.

Padi Emas mengangguk, dan duduk di sebuah bangku kecil. Dia mempersilakan Kayan duduk di dekatnya.

Padi Emas lalu bercerita….

***

Beberapa saat setelah gong dibunyikan, rombongan pasukan Sunda Galuh memasuki lapangan. Diawali munculnya tiga gajah dan iring-iringan empat kereta. Kemudian para pasukan berkuda. Mereka nampak gagah.

Tiga lelaki berkuda yang membawa panji Majapahit terlihat mendatangi rombongan. Terjadi pembicaraan. Tidak jelas apa yang didiskusikan karena beberapa saat kemudian tiga pengendara kuda itu kembali. Di saat bersamaan, terjadi perubahan di rombongan Sunda Galuh. Gajah dan kereta dibuat dalam formasi lingkaran. Para prajurit terlihat membentuk barisan dalam formasi siap tempur.

Bunyi gong kembali terdengar, kini bertalu-talu. Terdengar pekikan di sana sini. Prajurit Majapahit menyerbu.

Dari tepi lapangan Padi Emas mengamati dengan penuh perhatian. Dia sudah sering menyaksikan prajurit Majapahit berlatih perang. Ini pertama kali dia melihat prajurit menyerang lawan. Menyerang untuk menghancurkan.

Mata Padi Emas yang tajam dapat melihat kalau formasi menyerang Majapahit tidak sembarangan. Pasukan berkuda dan yang berjalan kaki menyerang dalam formasi tertentu. Setelah mengamati dengan seksama Padi Emas mengenali kalau Majapahit menyerang menggunakan formasi tempur yang disebut Garuda Nglayang (Garuda Melayang).

Formasi tempur ini mengandalkan kekuatan pasukan yang besar seperti burung Garuda melayang. Gerakan pasukan secara umum meniru gerakan burung Garuda. Beberapa senopati memimpin pasukan di paruh, kepala, sayap dan ekor, memberikan perintah kepada anak buahnya untuk menyambar, mematuk dan mencengkeram.

Padi Emas mengenali Senopati Kebo Branjang memimpin pasukan pada posisi paruh, di belakangnya Senopati Swastri dan Senopati Trisuryo memimpin pasukan pada posisi kepala burung. Begawana Bhuriswara di sayap kiri dan Senopati Bango Ngrontol di sayap kanan. Dua orang yang mengenakan penutup kepala nampak memimpin pasukan pada posisi cakar kaki, dan Senopati Kiageng Ngah memimpin pasukan pada posisi ekor yang merupakan pasukan penyapu bersih.

Dilibatkannya sejumlah senopati kelas atas dan teroganisirnya pasukan merupakan pertanda kalau Majapahit memandang pertempuran dengan pasukan Sunda Galuh sangat penting. Bahkan maha penting sehingga tidak boleh gagal.

Pasukan Sunda Galuh menyikapi serangan dengan dua formasi. Pertama Formasi Wukir Jaladri (Gunung Lautan) dengan membentuk lingkaran dari gajah dan kereta sebagai ‘gunung di tengah laut’. Baginda Maharaja Lingga Bhuwana bersama sang putri Dyah Pitaloka Citraresmi memimpin formasi ini.

Sebagian prajurit Sunda Galuh yang dipimpin Mangkubumi Hyang Bunisora membentuk formasi Jurang Grawah. Mereka sengaja menciptakan celah berupa jurang guna dimasuki prajurit Majapahit. Lawan yang terpancing memasuki jurang langsung dibinasakan. Formasi Jurang Grawah hanya bisa dibentuk oleh pasukan yang punya kemampuan beladiri, yang kemampuannya jauh di atas para penyerbu.

Awalnya pasukan Sunda Galuh bisa mengimbangi. Prajurit yang membentuk formasi Jurang Grawah menewaskan banyak pasukan Majapahit. Sementara formasi Wukir Jaladri sangat kokoh dan sukar ditembus.

Namun bagaimanapun, para penyerbu adalah pasukan Majapahit. Sebagian di antaranya telah melewati sejumlah pertempuran membela panji Majapahit di seberang samudera. Setelah sempat tertahan, perlahan pasukan Majapahit mulai menekan. Formasi Garuda Melayang pun beraksi. Paruh mematuk, sayap menggempur, cakar mencengkeram.

Dari tepi lapangan padi Emas melihat pertempuran berat sebelah itu. Jeritan kesakitan dan teriakan menjelang ajal terdengar bagai tembang dari lembah kematian.

Lapangan Bubat bersimbah darah.

Dengan trenyuh Padi Emas menyaksikan pemandangan itu. Dan dia kemudian melihat sesuatu yang tidak lazim. (bersambung)

Catatan

Deskripsi formasi tempur dalam kisah ini dikutip dari milis Tjersil

Salam,


Nov 20 2011

Eps 43. Rencana Pencarian Kalung yang Hilang

SIANG itu, suasana pasar ramai seperti biasa. Para pedangang dan pembeli hilir mudik tanpa henti.

Di mulut pasar, seorang pedagang batik sibuk melayani pembelinya. Di kios sebelahnya, terdapat pedagang yang menjual aneka barang yang terbuat dari kuningan. Kios ketiga menjual penganan kecil. Kios berikutnya adalah kios yang menjual buah- buahan.

Terletak di samping kios penjual buah itu, adalah kios milik Mbah Wongso. Kios tersebut menjual beragam gerabah. Dari celengan, mangkuk, gelas, poci dan beraneka barang lain. Beberapa pengunjung tampak memegang dan memilih barang- barang yang mereka butuhkan.

gerabah1

Sepasang suami istri menunjukkan beberapa buah celengan pada seorang anak lelaki berumur sekitar tujuh tahun. Anak itu memperhatikan celengan- celengan tersebut , lalu menunjuk salah satunya.

“ Niki pinten, mbah ? “ , Ayah sang anak bertanya pada mbah Wongso, menanyakan harga celengan yang ditunjuk oleh anaknya.

Mbah Wongso menjawab, mengatakan harga yang dimintanya. Lalu tawar menawar terjadi. Kesepakatan tercapai. Ibu si anak menyodorkan uang pada mbah Wongso, kemudian memberikan celengan yang baru saja dibeli pada anaknya yang terlonjak gembira.

Mbah Wongso tersenyum. Tingkah kanak- kanak yang polos selalu menyenangkan hati.

Setelah suami istri beserta anak mereka meninggalkan kiosnya, mbah Wongso mengalihkan perhatiannya pada pengunjung kios yang lain.

Semua berjalan seperti biasa. Tak satupun dari para pengunjung kios itu yang menduga bahwa di dalam ruangan dibalik pintu yang terletak di belakang tumpukan gerabah itu ada beberapa pendekar sedang berkumpul.
Continue reading


Sep 19 2011

Eps 42. Buluh Perindu Penggoda Sukma

KIRAN melap bibirnya yang berminyak, dan dengan nikmat mereguk air putih dari gelas bambu. Dia menarik nafas panjang, merasakan kesejukan yang merasuk di dada. Setelah sempat dilanda ketegangan, bisa menikmati santap malam dengan nyaman sangatlah menyenangkan. Dia menatap Mohiyang yang juga sudah selesai makan. Nenek renta ini hanya makan sedikit.

Kedua perempuan beda usia ini saling pandang. Merasakan suasana yang aneh. Keduanya tak saling kenal, namun kini seperti ditautkan oleh suatu perasaan, entah apa.

Dari kejauhan, debur ombak masih terdengar bersahutan, seperti berloma membelah pantai. Dan tiba-tiba terdengar alunan seruling, yang terdengar samar di antara debur ombak.

“Aneh, siapa yang meniup seruling di tempat ini?” Kiran bertanya sambil merapikan daun yang digunakan sebagai wadah makan. Continue reading


Sep 11 2011

Eps 41. Para Penguntit

SENJA mulai menyapa. Udara hangat membanjiri Trowulan. Sesekali angin berhembus, membuat daun- daun di pohon beringin yang banyak berada di sekeliling kota bergerak- gerak halus.

Di Pawon Mantera Kata, Mbak Yu Tri membalik iwak wader di sebuah wajan terbuat dari gerabah. Wajan itu berisi wader pari, ikan kecil- kecil yang gurih. Mbak Yu Tri membiarkan ikan tersebut sebentar lagi dalam wajan tersebut untuk membuatnya lebih kering, lalu mengangkatnya.

Sebelum ikan, tadi telah lebih dahulu digorengnya tempe. Kini tinggal menyiapkan sambal dan daun kemangi sebagai pelengkap wader dan tempe goreng tersebut.

Diliriknya para tamu Pawon Mantera Kata. Dari dapurnya, memang ada sebuah jendela yang membuat Mbak Yu Tri dapat melihat para tamu. Dari situ, dia juga dapat dengan jelas melihat pintu utama Pawon Mantera Kata. Dengan begitu, mudah baginya untuk memantau keadaan kedainya saat dia sedang memasak pesanan para tamu di dapur.

Mbak Yu Tri agak gelisah.

Diliriknya beberapa orang di meja pojok. Beberapa orang ada di sana. Orang- orang yang sebetulnya tak terlalu dia sukai tapi sering muncul di kedainya.

Seorang perempuan genit bernama Lendi Cidra. Peramu obat kerajaan Majapahit.

Seorang lelaki dengan raut muka yang jauh dari tampan. Matanya licik, hidungnya bulat dan giginya menyembul besar- besar. Kedip Dursasana.

Merekalah yang memesan wader pari ini.

Dungaren, pikir Mbak Yu Tri dalam hati. Tak biasanya mereka memesan makanan. Walau biasa berlama- lama di Pawon Mantera Kata, kedua orang tersebut seringkali hanya memesan minuman saja.

Mbak Yu Tri sedang mulai meracik bahan sambal di cobek yang berada di atas meja ketika ada bayangan sekelebat tertangkap di matanya.

Dia mengangkat kepalanya. Seorang perempuan memasuki Pawon Mantera Kata. Sekitar tiga tombak di belakangnya, seorang lelaki – mungkin pembantu atau pengawal – melangkah perlahan.
Continue reading


Jul 3 2011

Eps 40. Maut Mengintip di Lapangan Bubat

PENDEKAR Padi Emas melangkah menyusuri  jalan berbatu di Trowulan. Seperti biasa, ibukota Kerajaan Majapahit ini ramai oleh lalulalang penduduknya.  Sebagai kota terbesar di Jawadwipa, tak mengherankan jika Trowulan menjadi daya tarik utama, bukan hanya masyarakat biasa, namun juga berbagai tipe pedagang yang datang dari berbagai daerah.

Kios gerabah yang dituju letaknya tidak jauh, dan Pendekar Padi Emas merasa tidak perlu terburu-buru. Dia mencoba menikmati setiap denyut yang terasa di kota ini. Dia menarik nafas dalam-dalam, mencoba merasakan aroma sebuah kota. Selalu menyenangkan bisa berada di kota, pikirnya.

Dia terus melangkah, menikmati dan meresapi pemandangan. Hingga dia merasa ada sesuatu yang salah. Continue reading


Jun 19 2011

Eps 39. Utusan Para Pembawa Kegelapan

GULITA malam memeluk ribuan pepohonan yang memenuhi hutan di bibir tebing yang berbatasan dengan sebuah samudera.

Mohiyang Kalakuthana melangkah keluar dari pondok kayu yang terletak di hutan tersebut. Beberapa tombak di belakangnya, Kiran mengamati dengan waspada. Tangannya menggenggam selendang halus berwarna pelangi yang terikat di pinggangnya.

Kiran melihat Mohiyang berjalan dengan kecekatan yang mengagumkan. Tak tampak sama sekali bahwa usianya sudah lanjut. Dia melangkah cepat, hampir tanpa suara. Menunjukkan ketinggian ilmu yang dimilikinya.

Mohiyang telah meminta Kiran untuk membiarkannya mencari sumber suara dari luar pondoknya. Tapi tentu saja Kiran tak dapat membiarkan nenek tua itu melakukan hal tersebut sendirian. Segera setelah sosok Mohiyang tak lagi tertangkap oleh pandangnya, Kiran melangkah keluar pondok.

Kiran menajamkan pendengarannya. Diantara gerisik daun dan suara debur ombak, didengarnya dia dapat menangkap beberapa suara bersahutan dari arah kemana Mohiyang menuju tadi. Satu diantaranya jelas suara serak Mohiyang Kalakuthana. Kiran tak dapat menangkap jelas apa yang mereka percakapkan. Dia hanya dapat mendengar suara seorang laki- laki berkata “ serahkan… “ , disusul jawaban yang tak dapat tertangkap jelas kata- katanya dari Mohiyang Kalakuthana.

Kiran meningkatkan kewaspadaannya, sebab walau tak terdengar apa yang dipercakapkan, dari nada suaranya, Kiran dapat menangkap bahwa Mohiyang tak sepakat dengan apa yang dikatakan lelaki tersebut.

dark-forest

Kiran melangkah lagi sambil terus berusaha mendengarkan. Tapi tak lagi didengarnya suara percakapan. Rupanya percakapan itu tak panjang. Kiran bahkan baru berjalan sekitar tiga langkah ketika tiba- tiba terdengar suara “ akkhhhh… “ yang panjang dari beberapa orang, bersahutan hampir serentak , disusul suara bergedebukan seperti ada sesuatu yang berat terjatuh.

Kiran tak lagi berjalan kini. Dia melompat dan melayang dengan ringan, bersegera menuju arah sumber suara.

Saat dia tiba disana, Kiran melihat Mohiyang Kalakuthana berdiri diantara pepohonan. Di hadapannya, di atas tanah tergeletak lima lelaki berpakaian hitam. Kesemuanya telentang dengan darah mengalir keluar dari hidung dan mulut mereka. Continue reading


Jun 14 2011

Eps 38. Airmata Dewa yang Murka

MALAM datang seperti mimpi. Kegelapan menyelimuti persada, menghadirkan bayang-bayang mistis, seperti penari yang datang dari alam lain.

Dhanapati dan Kaleena baru saja menyantap ayam hutan panggang. Ayam hutan itu ditangkap Dhanapati ketika dia mencari sumber air. Ayam hutan jantan yang lumayan besar. Dan ternyata rasanya gurih. Dagingnya lembut kendati terasa agak tawar.

“Kelihatannya akan hujan,” kata Kaleena sambil menatap langit. Tak satupun bintang yang terlihat. Awan mendung pekat seperti cendawan raksasa yang menutupi cakrawala.

“Iya, ayo kita cari tempat untuk berteduh,” kata Dhanapati. Di hutan seperti ini, sangat kecil kemungkinan untuk mendapatkan tempat berteduh. Namun Dhanapati berharap bisa menemukan kuil atau candi, atau setidaknya sebuah dangau sederhana.

Namun alam rupanya menghendaki lain. Belum sempat keduanya beranjak, rintik hujan sebesar biji jagung turun ke bumi. Awalnya hanya beberapa. Namun seketika menjadi semakin banyak. Hujan lebat turun bagai airmata dewa yang murka. Continue reading